<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246</id><updated>2011-09-22T22:53:38.553+07:00</updated><category term='PPh Pasal 23'/><category term='PPh atas Bunga Obligasi'/><category term='teori pajak'/><category term='pph pasal 22'/><category term='Pasal 21'/><category term='PPh Final Sewa Tanah dan Bangunan'/><category term='tarif pph 22'/><category term='jatuh tempo dan pelaporan pajak'/><category term='Keberatan'/><category term='wajib pajak'/><category term='NPWP'/><category term='Norma Penghitungan'/><category term='PPh Kegiatan Usaha Berbasis Syariah'/><category term='Subjek Pajak'/><category term='BUT'/><category term='Tarif Pajak'/><category term='PPh Orang Pribadi'/><category term='spt'/><category term='PTKP'/><category term='PPh atas Dividen'/><category term='kup'/><category term='PPh Pasal 25'/><category term='PPh Tenaga Ahli'/><category term='PPh Penjualan Tanah/Bangunan'/><title type='text'>MATERI PAJAK</title><subtitle type='html'>Semua materi tulisan diblog ini hanya pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi manapun, termasuk instansi tempat saya bekerja.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-6158014559522755065</id><published>2011-09-22T22:50:00.001+07:00</published><updated>2011-09-22T22:53:38.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jatuh tempo dan pelaporan pajak'/><title type='text'>PENENTUAN TANGGAL JATUH TEMPO PEMBAYARAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 80/PMK.03/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13031"&gt;184/PMK.03/2007&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TENTANG PENENTUAN TANGGAL JATUH TEMPO PEMBAYARAN DAN&lt;br /&gt;PENYETORAN PAJAK , PENENTUAN TEMPAT PEMBAYARAN PAJAK, DAN TATA&lt;br /&gt;CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK, SERTA TATA CARA&lt;br /&gt;PENGANGSURAN DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menimbang : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;bahwa penetapan batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13031"&gt;184/PMK.03/2007&lt;/a&gt; tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak yang merupakan peraturan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 3 ayat (3c), Pasal 9 ayat (1) dan ayat (4), dan Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=9"&gt;Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13752"&gt;Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009&lt;/a&gt; (Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 49 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, diatur bahwa ketentuan dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berlaku pula bagi undang-undang perpajakan lainnya, kecuali apabila ditentukan lain;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bahwa selain pengaturan mengenai penetapan batas waktu pembayaran dan penyetoran pajak sebagaimana tersebut pada huruf a, sesuai ketentuan yang memberikan pengecualian sebagaimana tersebut pada huruf b, telah diatur batas waktu pembayaran dan penyetoran PPN berdasarkan Pasal 15A &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=11"&gt;Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13964"&gt;Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009&lt;/a&gt; yaitu paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bahwa dalam rangka penyelarasan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana dimaksud dalam huruf b dan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam huruf c, perlu melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penentuan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada huruf a;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13031"&gt;184/PMK.03/2007&lt;/a&gt; tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Mengingat : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=9"&gt;Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13752"&gt;Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009&lt;/a&gt; (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=11"&gt;Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13964"&gt;Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009&lt;/a&gt; (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5069);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Menteri Keuangan Nomor &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13031"&gt;184/PMK.03/2007&lt;/a&gt; tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MEMUTUSKAN :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13031"&gt;184/PMK.03/2007&lt;/a&gt; TENTANG PENENTUAN TANGGAL JATUH TEMPO PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PAJAK, PENENTUAN TEMPAT PEMBAYARAN PAJAK, DAN TATA CARA PEMBAYARAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK, SERTA TATA CARA PENGANGSURAN DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN PAJAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal I&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13031"&gt;184/PMK.03/2007&lt;/a&gt; tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak diubah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="text-align: left; width: 100%;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 23px;"&gt;1.&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1333px;"&gt;Ketentuan Pasal 1 angka 1, angka 2, dan angka 3 diubah, sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 1&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini, yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang selanjutnya disebut Undang-Undang KUP adalah &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=9"&gt;Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13752"&gt;Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Undang-Undang Pajak Penghasilan yang selanjutnya disebut Undang-Undang PPh adalah &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=10"&gt;Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13430"&gt;Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai yang selanjutnya disebut Undang-Undang PPN adalah &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=11"&gt;Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983&lt;/a&gt; tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13964"&gt;Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Penghasilan yang selanjutnya disingkat PPh adalah Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang PPh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Pertambahan Nilai yang selanjutnya disingkat PPN adalah Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang PPN.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang selanjutnya disingkat PPnBM adalah Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang PPN.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;2.&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Ketentuan Pasal 2 ayat (13), ayat (14), dan ayat (15) diubah, di antara ayat (13) dan ayat (14) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (13a), dan di antara ayat (14) dan ayat (15) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (14a), sehingga Pasal 2 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="text-align: left; width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(1)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong Pajak Penghasilan harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(2)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak harus disetor paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(3)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(4)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri harus disetor paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(5)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPh Pasal 21 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(6)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh Pemotong PPh harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(7)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;&amp;nbsp;PPh Pasal 25 harus dibayar paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(8)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(9)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah dilakukan pemungutan pajak.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(10)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPh Pasal 22 yang dipungut oleh bendahara harus disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara atau belanja Daerah, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama rekanan dan ditandatangani oleh bendahara.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(11)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPh Pasal 22 atas penyerahan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas kepada penyalur/agen atau industri yang dipungut oleh Wajib Pajak badan yang bergerak dalam bidang produksi bahan bakar minyak, gas, dan pelumas, harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(12)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan tertentu sebagai Pemungut Pajak harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(13)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri harus disetor oleh orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(13a)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean harus disetor oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean, paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 38px;"&gt;(14)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1276px;"&gt;PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran sebagai Pemungut PPN, harus disetor paling lama tanggal 7 (tujuh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(14a)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut PPN, harus disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(15)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut PPN selain Bendahara Pemerintah yang ditunjuk, harus disetor paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(16)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling lama pada akhir Masa Pajak terakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(17)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan beberapa masa pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;       &lt;/table&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td colspan="1" rowspan="2" style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 23px;"&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1333px;"&gt;&lt;br /&gt;Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 2A sehingga berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;Pasal 2A&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1333px;"&gt;&lt;br /&gt;PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak harus disetor paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa PPN disampaikan.&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan ayat (3) diubah, di antara ayat (1) dan ayat (2) disisipkan 3 (tiga) ayat yakni ayat (1a), ayat (1b) dan ayat (1c), dan di antara ayat (3) dan (4) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (3a) sehingga Pasal 7 berbunyi sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="text-align: left; width: 99%;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(1)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Wajib Pajak orang pribadi atau badan, baik yang melakukan pembayaran pajak sendiri maupun yang ditunjuk sebagai Pemotong atau Pemungut PPh, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), ayat (7), ayat (11), dan ayat (12) wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(1a)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM yang telah disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (13) dan ayat (13a), serta Pasal 2A, dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa PPN ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan, paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(1b)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan Pajak Pertambahan Nilai yang telah disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (13) dengan menggunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi tempat bangunan tersebut, paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(1c)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena Pajak wajib melaporkan Pajak Pertambahan Nilai yang telah disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (13a) dengan menggunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan badan tersebut, paling lama akhir bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 34px;"&gt;(2)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top; width: 1280px;"&gt;Pemungut Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (9) wajib melaporkan hasil pemungutannya secara mingguan paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(3)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Pemungut Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (10) wajib melaporkan hasil pemungutannya paling lama 14 (empat belas) hari setelah Masa Pajak berakhir.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(3a)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Pemungut PPN wajib melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM yang telah disetor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (14) dan ayat (15) ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pemungut PPN terdaftar paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;(4)&lt;/td&gt;             &lt;td style="text-align: justify; vertical-align: top;"&gt;Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (16) dan ayat (17) yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama 20 (dua puluh) hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir.&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;       &lt;/table&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal II&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-left: 44px;"&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 5 April 2010&lt;br /&gt;MENTERI KEUANGAN,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SRI MULYANI INDRAWATI&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 5 April 2010&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATRIALIS AKBAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 169 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-6158014559522755065?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6158014559522755065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6158014559522755065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2011/09/penentuan-tanggal-jatuh-tempo.html' title='PENENTUAN TANGGAL JATUH TEMPO PEMBAYARAN, PENYETORAN DAN PELAPORAN PAJAK'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-9193713419266808573</id><published>2011-09-15T20:58:00.000+07:00</published><updated>2011-09-15T20:58:07.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wajib pajak'/><title type='text'>Kewajiban perpajakan yang menjadi kewajiban WP</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in;"&gt;Kewajiban      perpajakan yang menjadi kewajiban adalah:&lt;/li&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;Mendaftarkan       diri pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;Melaporkan       usahanya pada KPP yang wilayah kerja meliputi tempat kegiatan usaha       (karena peredaran brotonya telah melampui Rp. 600 juta)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;Menyelenggarakan       pembukuan dan atau melakukan pencatatan apabila memeilih menggunakan       Norma Penghitungan Penghasilan Netto (karena peredaran brutonya kurang       dari Rp. 4,8 milyar)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;Menghitung,       memperhitungkan, membayar dan melaporkan pajak terutang dengan tidak       menggantungkan pada adanya Surat Ketetapan Pajak sesuai system Self       Assessment&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in;"&gt;Sesuai      dengan pasal 39 (1) huruf a UU KUP, setiap orang yang dengan sengaja tidak      mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP atau tidak melaporkan usahanya      untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak sehingga dapat menimbulkan      kerugian pada pendapatan Negara dipidana dengan pidana penjara paling      singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun dan denda paling sedikit 2 kali      jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4      kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in;"&gt;Sesuai      dengan Peraturan Menteri Keuangan No.22/PMK.03/2008, seorang kuasa bukan      konsultan pajak harus memenuhi persyaratan sbb:&lt;/li&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;memiliki       NPWP&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;telah       menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT Tahunan       PPH) tahun pajak terakhir&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;menguasai       kententuan peraturan perundang undangan perpajakan, dibuktikan dengan       kepemilikan sertifikat brevet&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in;"&gt;memiliki       surat       kuasa kusus dari wajib pajak yang memberi kuasa&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .75in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .5in;"&gt;Sesuai dengan PMK 22/PMK.03/2008, seseorang yang bukan konsultan pajak termasuk karyawan wajib pajak hanya dapat menerima kuasa dari: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0in; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 1.0in; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;a.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0in; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 1.0in; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;b.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp. 1,8 milyar dalam satu tahun&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0in; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 1.0in; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;c.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Wajib pajak badan dengan peredaran bruto tidak lebih dari Rp. 2,4 milyar dalam satu tahun&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0in; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list 1.0in; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;d.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dengan asumsi yang dimaksud dengan sertifikat brevet adalah sertifikat konsulatan pajak maka yang bersangkutan tidak boleh memberi kuasa kepada karyawanya yang belum lulus sertifikasi, karena karyawan tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai kuasa bukan konsultan pajak.&lt;/div&gt;&lt;ol start="4" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in;"&gt;Sesuai      dengan Pasal 2 (2) UU KUP, setiap wqjib pajak sebagai pengusaha yang      dikenai pajak berdasarkan UU PPN 1984 dan perubahanya wajib melaporkan      usahanya pada Kantor Dirjen Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat      tinggal atau tempat kedudukan pengusaha dan tempat kegiatan usaha      dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .5in;"&gt;Sesuai dengan KMK No.57/KMK.03/2003, pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan barang kena pajak dan/ atau jasa kena pajak dengan jumlah peredaran bruto tidak lebih dari Rp. 600 juta. Pengusaha kecil wajib melaporkan usahnya untuk di kukuhkan sebagai pengusaha kena pajak (PKP), apabila sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto / penerimaan brutonya melebihi Rp. 600 juta. Pengusaha tersebut wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat pada akhir bulan berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .5in;"&gt;Dalam hal pengusaha tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan, maka saat pengukuhan adalah awal bulan berikutnya setelah bulan batas pengukuhan. Kewajiban untuk memungut, menyetorkan, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN/PPN BM) yang terutang oleh pengusaha dimulai saat dikukuhkan sebagai PKP.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .5in;"&gt;Amanda harus dikukuhkan sebagai pengusha kena pajak (PKP) karena peredaran brutonya telah melebihi Rp. 600 juta sebagai syarat untuk dikukuhkan sebagai PKP.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1.0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-9193713419266808573?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/9193713419266808573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/9193713419266808573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2011/09/kewajiban-perpajakan-yang-menjadi.html' title='Kewajiban perpajakan yang menjadi kewajiban WP'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-2302183353974999748</id><published>2010-10-13T22:07:00.002+07:00</published><updated>2010-10-13T22:38:21.234+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pph pasal 22'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tarif pph 22'/><title type='text'>Objek, Tarif, dan Pemungut PPh Pasal 22</title><content type='html'>Pajak Penghasilan Pasal 22 atau disingkat PPh Pasal 22 adalah salah satu bentuk pemotongan dan pemungutan Pajak Penghasilan yang dilakukan oleh fihak lain terhadap Wajib Pajak. Pengenaan PPh Pasal 22 dikenakan terhadap kegiatan perdagangan barang. Titik pengenaannya ada yang dilakukan pada saat penjualan ada pula pada saat pembelian. Pada umumnya pengenaan PPh Pasal 22 ini dikenakan terhadap perdagangan barang yang dianggap “menguntungkan” sehingga penjual atau pembelinya kemungkinan besar akan mengalami keuntungan dan dengan demikian, &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pantaslah atas Wajib Pajak tersebut dikenakan cicilan pembayaran Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan PPh Pasal 22 relatif lebih sulit dibandingkan dengan ketentuan tentang pemotongan PPh yang lain seperti PPh Pasal 23 ataupun PPh Pasal 21. Hal ini disebabkan karena sangat bervariasinya objek, pemungut dan bahkan tarifnya. Di bawah ini saya coba ringkaskan objek, tarif dan Pemungut PPh Pasal 22 tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemungut dan Objek PPh Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan cukai, atas impor barang&lt;br /&gt;2. Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Bendahara Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang.&lt;br /&gt;3. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan atau belanja daerah (APBD), kecuali badan-badan tersebut pada angka 4.&lt;br /&gt;4. Bank Indonesia (BI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau steel, PT Pertamnina, dan bank-bank BUMN  yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber dari APBN maupun non-APBN.&lt;br /&gt;5. Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri rokok, industri kertas, Industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya didalam negeri.&lt;br /&gt;6. Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas.&lt;br /&gt;7. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif PPh Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Atas impor  yang menggunakan Angka Pengenal Impor (API), sebesar 2,5% (dua setengah persen) dari nilai impor;  yang tidak menggunakan API, sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari nilai impor; dan barang yang tidak dikuasai, sebesar 7,5% (tujuh setengah persen) dari harga jual lelang;&lt;br /&gt;2. Atas pembelian barang atau pembayaran yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Bendahara Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat Daerah sebesar 1,5% (satu setengah persen) dari harga pembelian.&lt;br /&gt;3. Atas pembelian barang yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan atau belanja daerah (APBD) sebesar 1,5% (satu setengah persen) dari harga pembelian.&lt;br /&gt;4. Atas pembelian barang yang dilakukan oleh  Bank Indonesia (BI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau steel, PT Pertamnina, dan bank-bank BUMN yang dananya bersumber dari APBN maupun non-APBN sebesar 1,5% (satu setengah persen) dari harga pembelian.&lt;br /&gt;5. Atas penjualan semen oleh Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen sebesar 0,25% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)  PPN&lt;br /&gt;6. Atas penjualan semen oleh Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri rokok sebesar 0,15% dari Harga Bandrol dan bersifat final.&lt;br /&gt;7. Atas penjualan semen oleh Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri kertas sebesar 0,1% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)  PPN&lt;br /&gt;8. Atas penjualan semen oleh Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri baja sebesar 0,3% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)  PPN&lt;br /&gt;9. Atas penjualan semen oleh Badan Usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri otomotif sebesar 0,45% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)  PPN&lt;br /&gt;10. Besarnya Pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas penjualan hasil produksi oleh Pertamina serta badan usaha lainnya yang bergerak dalam bidang bahan bakar minyak jenis premix, super TT dan gas adalah sebagai berikut:                             SPBU Swastanisasi              SPBU Pertamina&lt;br /&gt;————————–  —————————-&lt;br /&gt;Premium                 0,3% dari penjualan             0,25% dari penjualan&lt;br /&gt;Solar                      0,3% dari penjualan            0,25% dari penjualan&lt;br /&gt;Premix/Super TT      0,3% dari penjualan             0,25% dari penjualan&lt;br /&gt;Minyak Tanah          0,3 % dari penjualan&lt;br /&gt;Gas LPG                 0,3 % dari penjualan&lt;br /&gt;Pelumas                 0,3 % dari penjualan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pasal 22 yang atas pembelian bahan-bahan oleh  Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka adalah sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dari&lt;br /&gt;harga pembelian tidak termasuk PPN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Hukum :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pasal 22 Undang-undang Pajak Penghasilan&lt;br /&gt;2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 254/KMK.03/2001&lt;br /&gt;3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 392/KMK.03/2001&lt;br /&gt;4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 236/KMK.03/2003&lt;br /&gt;5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2007&lt;br /&gt;6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 08/PMK.03/2008&lt;br /&gt;7. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-417/PJ./2001&lt;br /&gt;8. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-401/PJ./2001&lt;br /&gt;9. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-529/PJ./2001&lt;br /&gt;10. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-69/PJ./1995&lt;br /&gt;11. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-01/PJ./1996&lt;br /&gt;12. Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-25/PJ./2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terbit ketentuan baru tentang PPh Pasal 22 pada tanggal 31 Agustus 2010 yaitu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 tentang Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 Sehubungan Dengan Pembayaran Atas Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor Atau Kegiatan Usaha di Bidang Lain. Lebih jauh tentang hal ini, silahkan baca tulisannya di bawah ini.&lt;br /&gt;(Sumber Dudi Wahyudi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-2302183353974999748?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2302183353974999748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2302183353974999748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2010/10/objek-tarif-dan-pemungut-pph-pasal-22.html' title='Objek, Tarif, dan Pemungut PPh Pasal 22'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-7876844703434692824</id><published>2010-10-13T22:02:00.004+07:00</published><updated>2010-10-13T22:39:02.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pph pasal 22'/><title type='text'>Ketentuan Baru PPh Pasal 22</title><content type='html'>Pada tanggal 31 Agustus 2010, telah terbit Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 tentang Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 Sehubungan Dengan Pembayaran Atas Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor Atau Kegiatan Usaha di Bidang Lain. Peraturan Menteri Keuangan ini terbit sebagai peraturan pelaksanaan Pasal 22 ayat (2) Undang-undang PPh dan menggantikan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 254/KMK.03/2001 sebagaimana telah bebarapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 210/PMK.03/2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perubahan mendasar akibat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan yang baru ini &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;saya uraikan di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PPh Pasal 22 Atas Pembelian Barang Oleh Pemerintah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Keuangan yang mulai berlaku tanggal 31 Agustus 2010 ini membawa beberapa perubahan dalam pemungutan PPh Pasal 22, salah satunya adalah pemungutan PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh pemerintah. Dirjen Perbendaharaan tidak lagi menjadi pemungut PPh Pasal 22 digantikan oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau Pejabat Penerbit SPM. Selengkapnya pemungut PPh Pasal 22 atas pembelian barang oleh pemerintah ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya&lt;br /&gt;2. bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP)&lt;br /&gt;3. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA, untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut objek pemungutan PPh Pasal 22 yang dikecualikan dari pemungutan, terdapat dua perubahan penting :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. batas pembelian barang yang tidak dipungut PPh Pasal 22 yang semula Rp1.000.000,- dinaikkan menjadi Rp2.000.000,-&lt;br /&gt;2. seluruh pembelian barang dalam rangka penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak perlu dipungut PPh Pasal 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PPh Pasal 22 Atas Pembelian Barang Oleh BUMN Atau BUMD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 ini, terdapat BUMN dan BUMD yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan/atau belanja daerah (APBD&lt;br /&gt;2. Bank Indonesia (BI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Steel, PT Pertamina, dan bank-bank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber dari APBN maupun non-APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan tersebut, BUMN dan BUMD tersebut tidak lagi ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sumber:dudiwahyudi &lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-7876844703434692824?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7876844703434692824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7876844703434692824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2010/10/ketentuan-baru-pph-pasal-22.html' title='Ketentuan Baru PPh Pasal 22'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-5585632441499552294</id><published>2009-12-04T22:58:00.002+07:00</published><updated>2010-10-13T22:27:30.600+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Orang Pribadi'/><title type='text'>Cara Menghitung PPh Orang Pribadi</title><content type='html'>Berikut ini adalah langkah-langkah dalam melakukan perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri secara umum. Perhitungan ini berguna untuk mengisi SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Pertama : Identifikasi Jenis Penghasilan Yang Dikenakan PPh Final.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang sudah dikenakan Pajak Penghasilan final tidak dihitung lagi PPh nya dalam SPT Tahunan. Demikian juga PPh Final yang sudah dipotong atau dibayar tidak akan dikreditkan dalam SPT Tahunan. Beberapa jenis penghasilan yang dikenakan PPh final di antaranya adalah bunga deposito/tabungan, hadiah undian, laba dari transaksi penjualan tanah/bangunan, dan penghasilan dari transaksi penjaualan saham di bursa efek.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Silahkan baca tulisan saya tentang PPh Final pada link berikut : Pajak Penghasilan Final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Kedua : Identifikasi Penghasilan Yang Bukan Objek Pajak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis penghasilan yang bukan merupakan objek pajak berdasarkan Pasal 4 ayat (3) Undang-undang Pajak Penghasilan di antaranya adalah bantuan, sumbangan dan warisan. Penghasilan-penghasilan ini tidak dikenakan Pajak Penghasilan sehingga harus kita keluarkan dari daftar penghasilan yang menjadi dasar perhitungan Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Ketiga : Identifikasi Jenis Penghasilan Selain Penghasilan Yang Dikenakan PPh Final dan Penghasilan Yang Bukan Objek Pajak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang tidak dikenakan PPh Final dan juga yang bukan termasuk penghasilan yang bukan objek pajak inilah yang merupakan dasar kita melakukan perhitungan Pajak Penghasilan dalam satu tahun pajak yang akan dituangkan dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Keempat : Identifikasi Jenis Penghasilan Yang Objek Pajak Tidak Final&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mendapatkan penghasilan yang merupakan objek pajak tetapi tidak final sebagaimana dalam langkah ketiga, maka selanjutnya kita identifikasikan penghasilan-penghasilan ini ke dalam tiga jenis penghasilan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Penghasilan dari Usaha/Pekerjaan Bebas&lt;br /&gt;2.Penghasilan dari Pekerjaan&lt;br /&gt;3.Penghasilan Lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Kelima : Hitung Penghasilan Neto Masing-masing Jenis Penghasilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan neto tiap-tiap jenis penghasilan dihitung dengan cara penghasilan bruto dikurangi dengan pengurang atau biaya. Masing-masing jenis penghasilan berbeda jenis pengurangnya. Untuk penghasilan dari usaha/pekerjaan bebas, pengurangnya adalah biaya-biaya usaha yang terkait dengan usaha/pekerjaan bebas seperti biaya pegawai, biaya administrasi, biaya pemasaran, biaya penyusutan atau biaya sewa. Perhatikan juga dalam bagian ini biaya yang dapat dibebankan (deductible) dan biaya yang tidak dapat dibebankan (non deductible). Untuk penghasilan dari pekerjaan, pengurangnya adalah iuran pensiun/THT yang berasal dari gaji dan biaya jabatan. Sementara itu penghasilan lain-lain, seperti dividen, komisi atau hadiah pengurangnya adalah biaya yang terkait dengan perolehan penghasilan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Keenam : Jumlahkan Seluruh Penghasilan Neto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan neto masing-masing jenis penghasilan kita jumlahkan (termasuk penghasilan istri yang digabung dan penghasilan anak yang belum dewasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Ketujuh : Hitung Penghasilan Kena Pajak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak diperoleh dari total penghasilan neto dikurang dengan zakat atas penghasilan, kompensasi kerugian dan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Langkah Kedelapan : Hitung Pajak Penghasilan Terutang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak Penghasilan (PPh) terutang dihitung dengan cara mengalikan Penghasilan Kena Pajak dengan tarif Pasal 17 atau tarif umum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-5585632441499552294?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/5585632441499552294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/5585632441499552294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/12/cara-menghitung-pph-orang-pribadi.html' title='Cara Menghitung PPh Orang Pribadi'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-8238172097691877534</id><published>2009-11-19T23:32:00.002+07:00</published><updated>2010-10-13T22:27:54.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 25'/><title type='text'>Fasilitas bagi perusahaan terbuka</title><content type='html'>Bagi perusahaan yang sudah terbuka (listing di bursa saham) sekarang sudah bisa menikmati fasilitas Pajak Penghasilan berupa tarif yang lebih rendah 5% dari tarif pajak pada umumnya. Pada tanggal 30 Desember 2008 telah dikeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 238/PMK.03/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengawasan Pemberian Penurunan Tarif Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 238/PMK.03/2008 ini tarif yang&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; di UU No.17 Tahun 2000 sebesar semula 30% menjadi 25%. Tarif Ini tentu hanya berlaku untuk tahu pajak 2008. Sejak tahun pajak 2009, berlaku UU PPh baru dengan tarif tunggal sebesar 28%. Dan sejak tahun 2010 tarif PPh Badan turun lagi menjadi hanya 25% saja. Nah bagi perseroan terbuka maka tarif pajak untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&amp;gt; tahun 2009 sebesar 23% [yaitu 28% - 5%] dan &lt;br /&gt;-&amp;gt; tahun 2010 sebesar 20% [yaitu 25% - 5%]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di UU No. 36 Tahun 2008 yang mulai berlaku sejak tahun pajak 2009, penurunan tarif ini dimuat di Pasal 17 ayat 2b UU PPh 1984. Bunyi lengkapnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif sebesar 5% (lima persen) lebih rendah daripada tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak semua perseroan terbuka dapat menikmati fasilitas ini. Syarat bagi perseroan terbuka untuk dapat menikmati penurunan tarif ini adalah :&lt;br /&gt;[1.] Paling sedikit 40% saham disetor milik publik;&lt;br /&gt;[2.] Publik yang memiliki saham paling sedikit 300 pihak. Artinya setiap pihak paling banyak sekitar 0,13% jika dibagi rata;&lt;br /&gt;[3.] Salah satu atau beberapa pihak harus kurang dari 5% dari total modal disetor. Jika ada tiga pihak yang memiliki 4% saja maka sisanya 28% harus dibagi ke 297 pihak. &lt;br /&gt;[4.] Dimiliki setidak-tidaknya 6 bulan atau 183 hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati tarif khusus ini, perseroan terbuka harus melampirkan Surat Keterangan dari Biro Administrasi Efek berupa formulir X.H.1-6 setiap tahun atau setiap lapor SPT Tahunan PPh Badan. Perhitungan pajak terutang dengan tarif khusus ini dijadikan sebagai dasar penghitungan PPh Pasal 25 [cicilan pajak tahun berjalan yang dibayar setiap bulan]. Hanya saja menurut saya, contoh perhitungan pajak yang dilampirkan di Peraturan Menteri Keuangan No. 238/PMK.03/2008 ini "salah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh perhitungan PPh Pasal 25 masih menggunakan tarif lama [tarif progresif] padahal untuk tahun pajak 2009 berlaku tarif tunggal. Memang setelah saya hitung pajak terhitung justru lebih besar daripada contoh. Menurut saya, perhitungan PPh Pasal 25 dihitung sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan kena pajak Rp.500.000.000,00&lt;br /&gt;PPh terutang 23% x Rp.500.000.000,00 = Rp. 115.000.000,00&lt;br /&gt;Dikurangi potput : Rp.115.000.000,00 – Rp. 22.500.000,00 = Rp.92.500.000,00&lt;br /&gt;PPh Pasal 25 menjadi Rp.92.500.000,00 / 12 = Rp.7.708.333,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di contoh yang diberikan PPh Pasal 25 sebesar Rp. 7.500.000,00. Hal ini terjadi karena pada contoh masih menggunakan tarif progressif. Artinya penghasilan kena pajak sampai dengan Rp.100.000.000,00 menggunakan tarif 10% dan 15% sehingga PPh terutang hanya Rp.12.500.000,00 sedangkah dengan tarif tunggal 23% menjadi Rp.23.000.000,00. Tetapi jika penghasilan kena pajak lebih besar lagi, misalnya 50 milyar rupiah, maka PPh terutang tentu akan lebih kecil menggunakan tarif tunggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, yang harus diikuti tetap contoh di Peraturan Menteri Keuangan No. 238/PMK.03/2008 berdasarkan Pasal 25 ayat (1) UU PPh 1984 :&lt;br /&gt;Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang di Pasal 25 ayat (1) UU PPh 1984 disebutkan “PPh tahun pajak yang lalu” tetapi karena adanya perbedaan tarif antara tahun pajak 2008 dan tahun pajak 2009 maka akan ada “perbedaan” kredit pajak. Asumsi PPh Pasal 25 selalu sama antara penghasilan kena pajak tahun sekarang dan tahun yang lalu. Dengan asumsi ini tentu PPh yang terutang akan sama sehinggal begitu SPT dibuat maka PPh terutang akan LUNAS dengan PPh Pasal 25. Tidak ada PPh Pasal 29. Walaupun pada kenyataannya selalu akan beda. Dan walaupun ada perbedaan maka perbedaannya diharapkan tidak terlalu besar. Inilah filosofi cicilan pajak berupa PPh Pasal 25.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-8238172097691877534?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/8238172097691877534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/8238172097691877534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/11/fasilitas-bagi-perusahaan-terbuka.html' title='Fasilitas bagi perusahaan terbuka'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-8343523222103913952</id><published>2009-11-19T23:26:00.002+07:00</published><updated>2010-10-13T22:28:34.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Penjualan Tanah/Bangunan'/><title type='text'>Cash basis bagi penjual tanah</title><content type='html'>Mulai tanggal 1 Januari 2009 terhadap penghasilan yang diterima oleh pengembang atas penjualan rumah sederhana [RS] dan rumah susun sederhana [RSS] terutang Pajak Penghasilan sebesar 1% FINAL. Pengembang yang saya maksud adalah semua penjual yang USAHA POKOKnya jual beli tanah dan atau bangunan. Jika pengembang tersebut menjual RS dan non-RS maka berlaku dua tarif. Satu tarif 5% berlaku bagi siapapun penjual tanah dan/atau bangunan, satunya lagi 1% khusus berlaku untuk pengembang dan produk RS &amp;amp; RSS. Pengertian RS &amp;amp; RSS sama antara PPh dan PPN karena mengacu ke Peraturan Menteri Perumahan Rakyat. Artinya, RS dan RSS selain bebas PPN juga PPh-nya hanya 1%.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban perpajakan atas penghasilan yang berasal dari penjualan tanah dan/atau bangunan sangat sederhana karena hanya satu tarif [flat, katakanlah 5%] dan dari bruto. Dasar pengenaan PPh ini adalah CASH BASIS artinya tarif tersebut tinggal dikalikan dengan jumlah uang yang diterima oleh penjual. Berikut bunyi lengkap Pasal 2A Peraturan Menteri Keuangan No 243/PMK.03/2008:&lt;br /&gt;(1) Besarnya Pajak Penghasilan yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) dan Pasal 2 ayat (1) adalah sebesar 5% (lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, kecuali atas pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib paiak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dikenai Pajak Penghasilan sebesar 1% (satu persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dalam hal pembayaran atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan dengan cara angsuran, maka pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihiting berdasarkan jumlah setiap pembayaran angsuran termasuk uang muka, bunga, pungutan dan pembayaran tambahan lainnya, yang dipenuhi oleh pembeli, sehubungan dengan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, rumus untuk menghitung pajak terutang atas penjualan tanah dan/atau bangunan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5% x kas yang diterima, atau&lt;br /&gt;1% x kas yang diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh yang terutang diatas wajib dilunasi paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya. Jika terlambat, berarti “dapat” dikenakan bunga sebesar 2% per bulan dari PPh terutang. Walaupun demikian, ada penjual yang tidak perlu bayar PPh ini karena memang DIKECUALIAKAN oleh pemerintah. Berikut bunyi lengkap Pasal 5 Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2008 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (1) adalah:&lt;br /&gt;a. orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak yang melakukan pengalihan hak atas tanah danlatau bangunan dengan jumlah bruto pengalihannya kurang dari Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) dan bukan merupakan jumlah yang dipecahpecah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari pengalihan hak atas tanah danlatau bangunan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) huruf c;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. orang pribadi yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, bad.an keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak Yang bersangkutan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. badan yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah kepada badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan bahwa nilai pengalihan Rp.60.000.000 atau kurang bukan pengurang dasar pengenaan pajak seperti NPOPTKP di BPHTB atau NJOPTKP di PBB. Jika nilai pengalihan diatas enam puluh juta maka PPh terutang tetap dari nilai bruto [semuanya]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Peraturan Menteri Keuangan berkaitan dengan huruf “b” [pengecualian] diatas adalah tanah dan/atau bangunan yang dibeli oleh pemerintah untuk kepentingan umum “yang memerlukan persyaratan khusus”. Sampai saat ini saya belum tahu apa yang dimaksud persyaratan khusus : apakah persyaratan bangunan atau persyaratan penyerahan dari sisi penjual atau persyaratan lokasi tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat aturan peralihan di SE-6/PJ.03/2008 yang berbunyi :&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak badan, termasuk koperasi, yang usaha pokoknya melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, apabila:&lt;br /&gt;a. melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan sebelum tanggal 1 Januari 2009 dan atas pengalihan hak tersebut belum dibuatkan akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan, atau risalah lelang oleh pejabat yang berwenang; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. penghasilan atas pengalihan hak sebagaimana dimaksud pada huruf a telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang bersangkutan dan Pajak Penghasilan atas penghasilan tersebut telah dilunasi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengenaan pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengaiihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 1999 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari SE-6/PJ.03/2008 tersebut saya berkesimpulan bahwa cash basis dan tariff 1% hanya berlaku untuk pengalihan hak yang terjadi sejak 1 Januari 2009 atau pengalihan hak yang terjadi sebelum 1 januari 2009 tetapi belum dilaporkan di SPT Tahunan PPh. Sebelum 1 Januari 2009 pembayaran PPh atas pengalihan tanah dan/atau bangunan bagi pengembang merupakah PPh Pasal 25 sehingga jika ada kekurangan dapat dilunasi sebelum SPT Tahunan PPh Badan dilaporkan. Sekarang PPh tersebut terutang saat terima uang hasil penjualan tanah dan/atau bangunan baik penjualan tersebut dicicil atau tidak. Hal ini sama dengan PPh atas Jasa Konstruksi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-8343523222103913952?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/8343523222103913952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/8343523222103913952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/11/cash-basis-bagi-penjual-tanah.html' title='Cash basis bagi penjual tanah'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-28816401833773768</id><published>2009-11-19T23:22:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:29:02.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Penjualan Tanah/Bangunan'/><title type='text'>Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Penjualan Tanah / Bangunan</title><content type='html'>Telah terbit Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008 yang mengatur tentang pengenaan Pajak Penghasilan atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Peraturan Pemerintah ini adalah rangkaian Peraturan Pemerintah sebelumnya yang mengatur hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali Peraturan Pemerintah yang mengatur hal ini adalah PP Nomor 48 Tahun 1994 yang berlaku mulai 1 Januari 1995. PP ini kemudian diubah dengan PP Nomor 27 Tahun 1996 dan PP Nomor 79 Tahun 1999. Dengan PP Nomor 79 Tahun 1999 yang mulai berlaku 1 Januari 2000 ini, pengenaan Pajak Penghasilan terhadap Wajib Pajak yang bergerak&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; dalam usaha penjualan tanah/bangunan dilakukan dengan cara biasa, tidak dikenakan PPh final. Ketentuan ini dilatar belakangi oleh kondisi krisis moneter tahun 1997-1998 yang membuat banyak perusahaan pengembang mengalami kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan terakhir dilakukan dengan terbitnya PP Nomor 71 Tahun 2008. ini kembali mengenakan PPh final kepada seluruh transaksi pengalihan hak atas tanah dan bangunan, tidak terkecuali bagi penjualan hak atas tanah/bangunan yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang bergerak dalam bidang penjualan tanah/bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Orang Pribadi yang melakukan pengalihan hak atas tanah/bangunan, pengenaan PPh nya masih final. Begitu juga tarifnya masih 5%. Bagi Wajib Pajak Badan yang usahanya bukan mengalihkan hak tanah/bangunan (bukan pengembang) yang mengallihkan hak tanah/bangunan, pengenaan PPh nya tetap 5% namun sifatnya menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;final yang sebelumnya tidak final&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu perubahan penting juga yang dilakukan oleh PP Nomor 71 Tahun 2008 yang akan berlaku mulai 1 Januari 2009 ini adalah adanya tarif khusus 1% (bukan 5%) dan bersifat final atas penghasilan pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-28816401833773768?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/28816401833773768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/28816401833773768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/11/pajak-penghasilan-atas-penghasilan.html' title='Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Penjualan Tanah / Bangunan'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-3575387773224331380</id><published>2009-11-19T23:21:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:29:34.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Final Sewa Tanah dan Bangunan'/><title type='text'>Pajak Penghasilan Final Atas Tanah dan/atau Bangunan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ruang Lingkup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan berupa sewa atas tanah dan atau bangunan berupa tanah, rumah, rumah susun, apartemen, kondominium, gedung perkantoran, gedung pertokoan, atau gedung pertemuan termasuk bagiannya, rumah kantor, toko, rumah toko, gudang dan bangunan industri, dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Besarnya Pajak Penghasilan Final yang terutang bagi Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Badan yang menerima atau memperoleh penghasilan sewa tanah dan/atau bangunan adalah sebesar &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;10% dari nilai bruto nilai persewaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan jumlah bruto nilai persewaan adalah semua jumlah yang dibayarkan atau terutang oleh pihak yang menyewa dengan nama dan dalam bentuk apapun yang berkaitan dengan tanah dan atau bangunan yang disewa, termasuk biaya perawatan, biaya pemeliharaan, biaya keamanaan dan service charge baik yang perjanjiannya dibuat secara terpisah maupun yang disatukan dengan perjanjian persewaan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelunasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pelunasan Pajak Penghasilan final ini dilakukan dengan dua cara atau mekanisme. Mekanisme pertama melalui pemotongan dan mekanisme pembayaran sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan pemotongan itu adalah bahwa si penyewa harus memotong Pajak Penghasilan sebesar 10% dari uang sewa yang dibayarkannya. Misal, PT ABC selaku penyewa membayarkan uang sewa kepada PT XYZ senilai Rp100 Juta. PT ABC akan menahan 10% atau senilai Rp 10 Juta untuk disetorkan ke kas negara sebagai PPh final. Sisanya Rp90 Juta adalah jumlah yang dibayarkan kepada PT XYZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu mekanisme pembayaran sendiri adalah mekanisme di mana PPh final sebesar 10% dari uang sewa dibayarkan sendiri oleh si pemilik tanah/bangunan.&lt;br /&gt;Mekanisme dilakukan jika si penyewa adalah fihak-fihak yang disebut sebagai pemotong pajak yaitu : Badan Pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, kerjasama operasi, perwakilan perusahaan luar negeri lainnya, dan orang pribadi yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika penyewanya bukan fihak-fihak di atas, misalnya orang pribadi biasa, maka si pemilik tanah/bangunan lah yang harus menyetorkan sendiri PPh finalnya.&lt;br /&gt;Pembayaran PPh final ke kas negara oleh pemotong harus dilakukan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Sementara itu, pembayaran PPh final oleh yang menyewakan harus dilakukan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pelaporan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemotong pajak yang memotong Pajak Penghasilan final, pelaporan atas PPh final yang dipotongnya harus dilakukan  paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya setelah bulan pembayaran atau terutangnya sewa. Begitu juga, bagi fihak yang menyewakan yang membayar sendiri PPh final, pembayaran tersebut harus dilaporkan paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. Pelaporan dilakukan dengan menggunakan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dasar Hukum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a.    Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 Tentang Pembayaran Pajak Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan&lt;br /&gt;b.    Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996&lt;br /&gt;c.     Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 394/KMK.04/1996 Tentang  Pelaksanaan Pembayaran Dan Pemotongan Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Persewaan Tanah Dan/Atau Bangunan&lt;br /&gt;d.    Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 120/KMK.03/2002 Tentang Perubahan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 394/KMK.04/1996&lt;br /&gt;e.    Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep - 227/PJ./2002 Tentang Tata Cara Pemotongan Dan Pembayaran, Serta Pelaporan Pajak Penghasilan Dari Persewaan Tanah Dan Atau Bangunan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-3575387773224331380?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/3575387773224331380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/3575387773224331380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/11/pajak-penghasilan-final-atas-tanah.html' title='Pajak Penghasilan Final Atas Tanah dan/atau Bangunan'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-5785084321886593233</id><published>2009-10-29T22:38:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:30:13.902+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh atas Bunga Obligasi'/><title type='text'>PPh atas Bunga Obligasi</title><content type='html'>Tgl 9 Pebruari ini Presiden telah menandatangani Peraturan Pemerintah No 16 tahun 2009 tentang “Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi” yang berlaku surut sejak 1 Jan 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam PP No 16 tahun 2009 tersebut diatur hal-hal sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam PP ini, yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Obligasi adalah surat utang atau surat utang negara yang berjangka waktu lebih  dari 12 (dua belas) bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bunga Obligasi adalah Imbalan yang diterima dan/atau diperoleh pemegang obligasi dalam bentuk bunga dan/atau diskonto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Atas Penghasilan yang diterima dan/atau dperoleh Wajib Pajak berupa Bunga Obligasi dikenai pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat Final&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan pada ayat 1 tidak berlaku apabila penerima penghasilan berupa bunga obligasi adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wajib Pajak  Dana Pensiun yang pendirian atau pembentukannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat (3) huruf h UU PPh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Wajib Pajak bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (1) adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bunga dari obligasi dengan kupon sebesar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) 15% (lima belas persen) bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) 20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan P3B bagi WPLN selain BUT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan obligasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. diskonto dari Obligasi dengan kupon sebesar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) 15% (lima belas persen) bagi wajib oahaj dakan negeri dan bentuk usaha tetap, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) 20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan P3B bagi WPLN selain BUT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi, tidak termasuk bunga berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. diskonto dari obligasi tanpa bunga sebesar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) 15% (lima belas persen) bagi wajib oahaj dakan negeri dan bentuk usaha tetap, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) 20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan P3B bagi WPLN selain BUT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. bunga dan/atau diskonto dari obligasi yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebesar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) 0% (nol persen) untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) 5% (Lima persen) untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) 15% (lima belas persen) untuk tahun 2014 dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemotongan PPh dilakukan oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Penerbit Obligasi atau kustodian selaku agen pembayaran yang ditunjuk, atas bunga dan/atau diskonto yang diterima pemegang obligasi dengan kupon pada saat jatuh tempo Bunga  Obligasi, dan diskonto yang diterima pemegang obligasi tanpa bunga pada saat jatuh tempo obligasi; dan/atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perusahaan Efek, dealer, atau bank selaku pedagang perantara dan/atau pembeli, atas bunga dan diskonto yang diterima penjual obligasi pada saat transaki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-5785084321886593233?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/5785084321886593233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/5785084321886593233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pph-atas-bunga-obligasi.html' title='PPh atas Bunga Obligasi'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-1969678077425321465</id><published>2009-10-29T22:16:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:30:43.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Kegiatan Usaha Berbasis Syariah'/><title type='text'>PPh Kegiatan Usaha Berbasis Syariah</title><content type='html'>Kegiatan ekonomi berbasis syariah memiliki karakteristik tersendiri. Waktu kuliah di Jurangmangu, seorang dosen malah berkomentar waktu pendirian Bank Muamalat, “Bank kok jualan barang.” Karena itu, tidak sedikit pejabat DJP juga berpendapat jika atas pembiayaan yang berasal dari bank syariah terutang PPN. Hal ini karena dia melihat bahwa nasabah bank syariah ternyata membeli barang ke bank syariah bukan kepada penjual barang.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk Pajak Penghasilan, UU PPh 1984 amandemen 2008 telah menyiratkan di Pasal 31D UU PPh 1984 bahwa harus ada kesetaraan antara kegiatan ekonomi berbasis syariah dan konvensional. Berikut bunyi Pasal 31D UU PPh 1984:&lt;br /&gt;Ketentuan perpajakan bagi bidang usaha pertambangan minyak dan gas bumi, bidang usaha panas bumi, bidang usaha pertambangan umum termasuk batubara, dan bidang usaha berbasis syariah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum amandemen 2008, tidak ada pasal 31D. Ini benar-benar pasal baru! Salah satu alasan penambahan pasal ini adalah memberikan perlakuan yang sama dengan kegiatan usaha konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan perlakuan antara transaksi konvensional dan transaksi berbasis syariah juga disebutkan di penjelasan Peraturan Pemerintah sebagai tindak lanjut Pasal 31D khusus bidang usaha berbasis syariah yaitu Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2009. Penjelasan dari Peraturan Pemerintah ini diantaranya menyebutkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara transaksi berdasarkan prinsip syariah dengan transaksi berdasarkan sistem konvensional tersebut akan mengakibatkan beberapa implikasi. Perbedaan tersebut menyebabkan perlakuan perpajakan yang berbeda dalam suatu industri yang sama, yaitu untuk kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dan kegiatan usaha berdasarkan sistem konvensional. Dengan perlakuan yang berbeda tersebut, maka perlakuan perpajakan menjadi tidak netral bagi para pihak yang terlibat untuk menentukan pilihan apakah menggunakan transaksi berdasarkan prinsip syariah atau berdasarkan sistem konvensional. Implikasi berikutnya terkait dengan kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan bagi kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah tertentu, apabila ketentuan Pajak Penghasilan yang berlaku umum diterapkan atas transaksi syariah yang mendasari kegiatan usaha tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2009, perlakuan Pajak Penghasilan tidak bersifat distortif serta akan memberikan perlakuan yang sama (level playing field) bagi Wajib Pajak dalam suatu industri yang sama. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah kutipan dari PP ini yang saya anggap perlu :&lt;br /&gt;Usaha Berbasis Syariah adalah setiap jenis usaha yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang meliputi perbankan syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, jasa keuangan syariah, dan kegiatan usaha berbasis syariah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan Pajak Penghasilan dari kegiatan Usaha Berbasis Syariah meliputi:&lt;br /&gt;a. penghasilan;&lt;br /&gt;b. biaya; dan&lt;br /&gt;c. pemotongan pajak atau pemungutan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya dari kegiatan Usaha Berbasis Syariah termasuk:&lt;br /&gt;a . hak pihak ketiga atas bagi hasil;&lt;br /&gt;b. margin; dan&lt;br /&gt;c. kerugian dari transaksi bagi hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemotongan pajak atau pemungutan pajak dari kegiatan Usaha Berbasis Syariah&lt;br /&gt;dilakukan juga terhadap :&lt;br /&gt;a. hak pihak ketiga atas bagi hasil;&lt;br /&gt;b. bonus;&lt;br /&gt;c. margin; dan&lt;br /&gt;d. hasil berbasis syariah lainnya yang sejenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai penghasilan, biaya, dan pemotongan pajak atau pemungutan pajak dari kegiatan Usaha Berbasis Syariah berlaku mutatis mutandis ketentuan dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan bahwa ketentuan perpajakan yang berlaku umum berlaku pula untuk kegiatan Usaha Berbasis Syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiayaan murabahah menggunakan prinsip jual beli sehingga memunculkan margin yang merupakan selisih antara dana yang diberikan dengan total dana yang harus dikembalikan oleh penerima dana. Karena terkait dengan pembiayaan, bukan semata-mata transaksi jual beli. Maka terhadap margin tersebut diperlakukan sebagai penghasilan yang merupakan objek pemotongan Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika peraturan perpajakan merupakan satu kesatuan, tidak dilihat secara parsial, maka Pertaturan Pemerintah ini menegaskan bahwa pembiayaan bukan jual beli sehingga atas transaksi pembiyaan murabahah tidak terutang PPN [bukan objek PPN]. Disini, bank tidak ditempatkan sebagai penjual atau pembeli, tapi dianggap sebagai lembaga keuangan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-1969678077425321465?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/1969678077425321465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/1969678077425321465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pph-kegiatan-usaha-berbasis-syariah.html' title='PPh Kegiatan Usaha Berbasis Syariah'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-5003739308560641568</id><published>2009-10-29T22:14:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:31:03.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh atas Dividen'/><title type='text'>Pemotongan PPh atas Dividen</title><content type='html'>Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Pasal Pasal 17 ayat (2d) UU PPh 1984 amandemen 2008, pemerintah pada tanggal 9 Februari 2009 telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2009. Walaupun berisi empat pasal tetapi pada intinya, peraturan pemerintah ini hanya dua pasal karena pasal 3 berisi pelimpahan wewenang ke menteri keuangan dan pasal 4 merupakan saat berlakunya peraturan pemerintah ini yaitu 1 Januari 2009 atau berlaku mundur. Berikut kutipan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2009 : &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Penghasilan berupa dividen yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dikenai Pajak Penghasilan sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 dilakukan melalui pemotongan oleh pihak yang membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku pembayar dividen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1 diatas mirip dengan bunyi Pasal 17 ayat (2c) UU PPh 1984, yaitu :&lt;br /&gt;Tarif yang dikenakan atas penghasilan berupa dividen yang dibagikan kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri adalah paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan bersifat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pasal 17 UU PPh 1984 masuk di Bab IV Cara Menghitung Pajak. Khusus pasal 17 UU PPh 1984 berjudul Tarif Pajak. Pasal 17 sering disebut tarif progressif karena pengenaan tarif progressif ada di pasal 17 ini. Karena itu, saya sebenarnya heran dengan kewajiban pemotongan PPh atas dividen menurut peraturan pemerintah ini.  Dengan demikian, sejak sekarang ada pot put [withholding tax] PPh Pasal 17 ayat (2d).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh ini saya pikir bukan PPh Pasal 23 walaupun di Pasal 23 sendiri ada objek pemotongan PPh atas penghasilan dividen. PPh ini "seharusnya" disebut PPh Pasal 17 ayat (2d) karena :&lt;br /&gt;[1.] Bagian menimbang Peraturan Pemerintah No. No. 19 Tahun 2009 menyebutkan PPh Pasal 17 ayat (2d). Artinya, pasal inilah cantolan atau dasar hukum peraturan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] PPh Pasal 23 atas dividen yang diterima oleh orang pribadi dikecualikan dari kewajiban pemotongan PPh Pasl 23 berdasarkan Pasal 23 ayat (4) huruf c UU PPh 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, Pasal 21, Pasa 22, Pasal 23, Pasal 26 berada di Bab V Pelunasan Pajak Dalam Tahun Berjalan, dan di pasal tersebut memang ada kewajiban untuk memotong dan memungut. Tapi PPh Pasal 4 ayat (2) yang sering disebut PPh Final di UU PPh 1984 tidak ada ketentuan pemotongan. Ketentuan atau tata cara pemotongan diatur di tingkat peraturan pemerintah. Begitu juga dengan Pasal 15 yang berisi norma penghitungan khusus untuk golongan Wajib Pajak tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah berikut ini adalah yang disebut dividen :&lt;br /&gt;1.      pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun;&lt;br /&gt;2.      pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor;&lt;br /&gt;3.      pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;&lt;br /&gt;4.      pembagian laba dalam bentuk saham;&lt;br /&gt;5.      pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;&lt;br /&gt;6.      jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;&lt;br /&gt;7.      pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah;&lt;br /&gt;8.      pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;&lt;br /&gt;9.      bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;&lt;br /&gt;10.  bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;&lt;br /&gt;11.  pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;&lt;br /&gt;12.  pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-5003739308560641568?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/5003739308560641568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/5003739308560641568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pemotongan-pph-atas-dividen.html' title='Pemotongan PPh atas Dividen'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-9074764086220038936</id><published>2009-10-26T23:01:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:32:27.293+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 23'/><title type='text'>Daftar Objek PPh Pasal 23</title><content type='html'>Sebelum tahun 2009, saat terutang PPh Pasal 23 adalah saat dibayar atau terutang. Mana yang lebih cepat. Sejak tahun 2009 terjadi perubahan saat terutang dikarenakan pengakuan beban biaya dalam pembukuan (akhir tahun buku) tidak menjadikan timbulnya kewajiban pembayaran atau hak atas suatu penghasilan. Karena itu, sekarang PPh Pasal 23 terutang saat :&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[1.] dibayarkan,&lt;br /&gt;[2.] disediakan untuk dibayarkan, atau&lt;br /&gt;[3.] telah jatuh tempo pembayarannya&lt;br /&gt;mana yang lebih dulu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya tarif PPh Pasal 23 ada dua yaitu : 15% dan 2%.&lt;br /&gt;Jenis penghasilan yang menggunakan tarif 15 % dari jumlah bruto terdiri dari :&lt;br /&gt;[1.] dividen&lt;br /&gt;[2.] bunga&lt;br /&gt;[3.] royalti&lt;br /&gt;[4.] hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan penghasilan [jenis jasa] yang menggunakan tarif 2% dari jumlah bruto terdiri dari :&lt;br /&gt;[1.] Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa tanah dan atau bangunan;&lt;br /&gt;[2.] jasa teknik,&lt;br /&gt;[3.] jasa manajemen,&lt;br /&gt;[4.] jasa konsultan,&lt;br /&gt;[5.] Jasa penilai (appraisal);&lt;br /&gt;[6.] Jasa aktuaris;&lt;br /&gt;[7.] Jasa akuntansi, pembukuan, dan asestasi laporan keuangan;&lt;br /&gt;[8.] Jasa perancang (design);&lt;br /&gt;[9.] Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap;&lt;br /&gt;[10.] Jasa penunjang di bidang penambangan migas;&lt;br /&gt;[11.] Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas;&lt;br /&gt;[12.] Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;&lt;br /&gt;[13.] Jasa penebangan hutan;&lt;br /&gt;[14.] Jasa pengolahan limbah;&lt;br /&gt;[15.] Jasa penyedia tenaga kerja outsourcing services;&lt;br /&gt;[16.] Jasa perantara dan/atau keagenan;&lt;br /&gt;[17.] Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI;&lt;br /&gt;[18.] Jasa custodian/penyimpanan/penitipan, kecuai ayng dilakukan oleh KSEI;&lt;br /&gt;[19.] Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;&lt;br /&gt;[20.] Jasa mixing film;&lt;br /&gt;[21.] Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan, pemeliharaan dan perbaikan;&lt;br /&gt;[22.] Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas, AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;&lt;br /&gt;[23.] Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, perawatan, listrik, telepon, air, gas, AC, TV Kable, alat transportasi/kendaraan dan/atau bangunan selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;&lt;br /&gt;[24.] Jasa maklon;&lt;br /&gt;[25.] Jasa penyelidikan dan keamanan;&lt;br /&gt;[26.] Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;&lt;br /&gt;[27.] Jasa pengepakan;&lt;br /&gt;[28.] Jasa penyediaan tempat dan / atau waktu dalam media masa, media luar ruang atau media lain untuk penyampaian informasi;&lt;br /&gt;[29.] Jasa pembasmian hama;&lt;br /&gt;[30.] Jasa kebersihan atau cleaning service;&lt;br /&gt;[31.] Jasa catering atau tata boga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lengkap jenis-jenis jasa lain [didaftar diatas mulai no. 5] silakan periksa &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/3232369/pmk244mk032008-pph-23.rar.html"&gt;Peraturan Menteri Keuangan No. 244/PMK.03/2008 tentang Jenis Jasa Lain sebagaimana dimkasud dalam Pasal 23 ayat 1 huruf C angka 2 UU Nomor 36 tahun 2008&lt;/a&gt;. Sedangkan jasa konstruksi tidak saya masukkan di daftar diatas karena atas penghasilan jasa konstruksi dikenakan PPh Pasal 4 ayat (2) Final walaupun di Pasal 23 ayat (1) huruf c angka 2 UU PPh 1984 disebutkan. Kasusnya mungkin mirip dengan bunga deposito bank yang dikenakan PPh Pasal 4 ayat (2) Final walaupun di Pasal 23 ayat (1) huruf a angka 2 UU PPh 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat istilah “sedikit” berbeda antara Pasal 23 UU PPh 1984 dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 244/PMK.03/2008. Pasal 23 UU PPh 1984 menyebut “dari jumlah bruto” sedangkan di Peraturan Menteri Keuangan menyebut “dari jumlah bruto tidak termasuk PPN”. Saya pikir kedua istilah tersebut bukan masalah dan merepresentasikan maksud yang sama. Rumus yang menjadi patokan saya adalah dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai {DPP PPN] harus sama dengan dasar pengenaan pajak Pajak Penghasilan [DPP PPh]. Atau kalau dibalik ya sama saja:&lt;br /&gt;“DPP PPh = DPP PPN”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif 15% dan 2% akan menjadi 30 dan 4% [dinaikkan 100% dari tarif asal] jika penerima penghasilan merupakan wajib pajak yang tidak memiliki NPWP! Hal ini berdasarkan Pasal 23 ayat (1a) UU PPh 1984.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengecualian pemotongan PPh Pasal 23 jika :&lt;br /&gt;[a.] penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank [lembaga keuangan];&lt;br /&gt;[b.] sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi [berfungsi lembaga keuangan];&lt;br /&gt;[c.] dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f [karena bukan objek PPh] dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c) [karena sudah final];&lt;br /&gt;[d.] bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf I [karena bukan objek PPh];&lt;br /&gt;[e.] sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya;&lt;br /&gt;[f.] penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan [berfungsi lembaga keuangan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-9074764086220038936?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/9074764086220038936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/9074764086220038936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/daftar-objek-pph-pasal-23.html' title='Daftar Objek PPh Pasal 23'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-7271321636844334637</id><published>2009-10-16T21:54:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:32:46.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keberatan'/><title type='text'>Keberatan</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui, sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem self assesment di mana dengan sistem ini Wajib Pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung dan melunasi sendiri pajak yang terutang. Perhitungan pajak yang terutang ini didasarkan pada ketentuan perpajakan yang berupa Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan, dan Peraturan Dirjen Pajak.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, otoritas pajak, dalam hal ini DJP, diberikan tugas untuk melakukan pengujian dan pengawasan terhadap kepatuhan masyarakat Wajib Pajak terhadap ketentuan perpajakan. Dalam konteks inilah kita bisa memahami mengapa perlu dilakukan pemeriksaan pajak oleh DJP kepada sebagian Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemeriksaan pada umumnya berbentuk surat ketetapan pajak (SKP) di mana SKP ini berfungsi untuk melakukan koreksi atas perhitungan yang dilakukan oleh Wajib Pajak atau bisa juga untuk mengkonfirmasi kebenaran perhitungan oleh Wajib Pajak. Jenis-jenis SKP ini adalah Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dan Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam proses penetapan pajak melalui pemeriksaan ini sering timbul sengketa pajak antara Wajib Pajak dan otoritas pajak. Sengketa ini bisa disebabkan oleh perbedaan penafsiran atas ketentuan perpajakan, perbedaan pemahaman atas ketentuan perpajakan, perbedaan sudut pandang dalam menilai suatu fakta, bisa juga karena ketidaksepakatan dalam hal proses pembuktian. Untuk menyelesaikan sengketa seperti ini, Undang-undang KUP memberikan ruang kepada Wajib Pajak untuk melakukan keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pasal 25, 26, dan 26A Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Sebagaimana Telah Diubah Terakhir Dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 (UU KUP)&lt;br /&gt;* Peraturan Menteri Keuangan Nomor 194/PMK.03/2007 Tentang Tata Cara Pengajuan Dan Penyelesaian Keberatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Lingkup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan, dengan menyampaikan surat keberatan, hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)&lt;br /&gt;2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)&lt;br /&gt;3. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)&lt;br /&gt;4. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)&lt;br /&gt;5. Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyampaian Surat Keberatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat keberatan disampaikan oleh Wajib Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan melalui;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. penyampaian secara langsung;&lt;br /&gt;2. pos dengan bukti pengiriman surat; atau&lt;br /&gt;3. cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam pengertian penyampaian surat keberatan secara langsung adalah penyampaian surat keberatan melalui Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) dalam wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyampaian surat keberatan melalui cara lain meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat, atau&lt;br /&gt;2. e-filing melalui ASP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyampaian surat keberatan secara langsung diberikan tanda penerimaan surat dan penyampaian surat keberatan dengan e-filling melalui ASP diberikan Bukti Penerimaan Elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pengiriman surat melalui pos, perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir atau tanda penerimaan surat secara langsung serta Bukti Penerimaan Elektronik menjadi bukti penerimaan surat keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Permohonan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajuan keberatan yang dituangkan dalam bentuk surat keberatan harus memenuhi syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;&lt;br /&gt;2. mengemukakan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan Wajib Pajak dengan disertai alasan-alasan yang menjadi dasar penghitungan;&lt;br /&gt;3. 1 (satu) surat keberatan diajukan hanya untuk 1 (satu) surat ketetapan pajak, untuk 1 (satu) pemotongan Pajak, atau untuk 1 (satu) pemungutan pajak.&lt;br /&gt;4. Wajib Pajak telah melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan;&lt;br /&gt;5. diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga kecuali Wajib Pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan wajib Pajak (force majeur);dan&lt;br /&gt;6. surat keberatan ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak, surat keberatan tersebut harus dilampiri dengan surat kuasa khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal surat keberatan yang disampaikan oleh Wajib Pajak belum memenuhi persyaratan dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf f, Wajib Pajak dapat menyampaikan perbaikan surat keberatan dengan melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi sebelum jangka waktu 3 (tiga) bulan terlampaui. Namun demikian, dalam hal wajib Pajak menyampaikan perbaikan surat keberatan dalam jangka waktu 3 bulan, maka tanggal penyampaian perbaikan surat keberatan tersebut merupakan tanggal surat keberatan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat keberatan yang tidak memenuhi persyaratan di atas bukan merupakan surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan dan tidak diterbitkan Surat Keputusan Keberatan. Atas surat keberatan seperti ini diberitahukan kepada Wajib Pajak bahwa surat keberatannya tidak memenuhi persyaratan sehingga tidak dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Keberatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan Keterangan Oleh Wajib Pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan pengajuan keberatan, Wajib Pajak dapat meminta kepada Direktur Jenderal Pajak untuk memberi keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak atau penghitungan rugi. Direktur Jenderal Pajak wajib memberi keterangan yang diminta oleh Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak surat permintaan Wajib Pajak di terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangka waktu pemberian keterangan oleh Direktur Jenderal Pajak atas permintaan Wajib Pajak tersebut tidak menunda jangka waktu pengajuan keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Untuk Hadir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menerbitkan Surat Keputusan Keberatan, Direktur Jenderal Pajak harus menyampaikan Surat Pemberitahuan Untuk Hadir kepada Wajib Pajak guna memberi keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya. Jika Wajib Pajak tidak hadir pada waktu yang ditentukan dalam Surat Pemberitahuan Untuk Hadir, proses keberatan tetap diselesaikan tanpa menunggu kehadiran Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Direktur Jenderal Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan Untuk Hadir, hal-hal yang dapat dilakukan dalam proses penyelesaian keberatan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Direktur Jenderal Pajak meminta keterangan, data, dan/atau informasi tambahan dari Wajib Pajak;&lt;br /&gt;2. Wajib Pajak menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis untuk melengkapi dan/atau memperjelas surat keberatan yang telah disampaikan baik atas kehendak Wajib Pajak maupun dalam rangka memenuhi permintaan Direktur Jenderal Pajak;&lt;br /&gt;3. Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka keberatan untuk mendapatkan data dan/atau informasi yang objektif yang dapat dijadikan dasar dalam mempertimbangkan keputusan keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencabutan Pengajuan Keberatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak dapat mencabut pengajuan keberatan yang telah disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak sepanjang Surat Pemberitahuan Untuk Hadir belum disampaikan kepada Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak mencabut pengajuan keberatan, Wajib Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan surat ketetapan pajak yang tidak benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dan Informasi Yang Tidak Diberikan Pada Saat Pemeriksaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukuan, catatan, data, informasi atau keterangan lain yang tidak diberikan pada saat pemeriksaan tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan, kecuali pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain tersebut berada di pihak ketiga dan belum diperoleh Wajib Pajak pada saat pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui dan Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan Surat Keputusan Keberatan, keberatan yang diajukan Wajib Pajak dianggap dikabulkan dan Direktur Jenderal Pajak wajib menerbitkan Surat Keputusan Keberatan sesuai dengan keberatan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau sebagian, menolak, atau menambah besarnya jumlah pajak yang masih harus dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Wajib Pajak masih belum menerima keputusan keberatan dan masih merasa keberatan juga, Wajib Pajak masih dapat menempuh upaya hukum berikutnya yaitu dengan mengajukan banding kepada Pengadilan Pajak sesuai Pasal 27 Undang-undang KUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan Teknis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan yang lebih teknis tentang tatacara keberatan ini diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-49/PJ/2009 tanggal 7 September 2009 Tentang Tatacara Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-7271321636844334637?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7271321636844334637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7271321636844334637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/keberatan_16.html' title='Keberatan'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-446083228276412789</id><published>2009-10-16T17:54:00.009+07:00</published><updated>2010-10-13T22:33:56.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Tenaga Ahli'/><title type='text'>PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang diterima  Tenaga Ahli</title><content type='html'>Dengan diterbitkannya PER-31/PJ./2009 tanggal 25 Mei 2009 besarnya PPh pasal 21 yang terutang atas penghasilan yang dibayarkan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi (“WPOP”), selaku tenaga Ahli yang melakukan pekerjaan bebas (“Tenaga Ahli”) dirubah. Besarnya tariff PPh pasal 21 atas imbalan yang dibayarkan kepada tenaga ahli yang berlaku sebelum tahun 2009, sebagaimana diatur dalam KEP-545/PJ./2000 Jo PER-15/PJ./2006 adalah sebesar &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;15% x Perkiraan Penghasilan Neto (50%) x Jumlah Imbalan Bruto , atau tarif efektif sebesar 7,5% x Jumlah Imbalan Bruto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berlakunya Undang-undang No 36 tahun 2008 tentang Perubahan UU PPh terhitung mulai 1 Januari 2009 tariff PPh Orang Pribadi yang berlaku adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthREE6fleI/AAAAAAAAAAU/Su1Y3Wlg894/s1600-h/gb11.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393149684256576994" src="http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthREE6fleI/AAAAAAAAAAU/Su1Y3Wlg894/s400/gb11.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 161px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tarif tersebut diatas diatur dalam Pasal 17 UU PPh, sehingga lebih dikenal dengan istilah “tariff pasal 17” atau “tarif progresif” karena sifatnya yang pregresif )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perubahan tariff PPh Orang Pribadi tersebut, tentu juga diikuti dengan perubahan tariff pemotongan Pajak atas penghasilan yang dibayarkan kepada WP Orang Pribadi, sebagaimana diatur dalam pasal 21 UU PPh. Petunjuk pelaksanaan tentang Pemotongan PPh Pasal 21,khususnya yang terkait dengan imbalan yang dibayarkan kepada Tenaga Ahli diatur dalam PMK-252/PMK.03/2008 Jo PER-31/PJ./2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Definisi Tenaga Ahli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam PPh Pasal 21, yang dimaksud dengan tenaga ahli adalah tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari : 1) pengacara, 2) akuntan, 3) arsitek, 4) dokter, 5) konsultan, 6) notaris, 7) penilai, dan 8.) aktuaris.&lt;br /&gt;Disini, kata kuncinya adalah ‘melakukan pekerjaan bebas’. Dalam hal tenaga ahli tersebut tidak melakukan pekerjaan bebas, misalnya bekerja sebagai pegawai di institusi/ perusahaan tertentu, meskipun profesinya sebagai tenaga ahli, namun dalam menghitung PPh pasal 21 yang terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaannya mengikuti ketentuan PPh Pasal 21 untuk pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tarif yang berlaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Besarnya PPh Pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas dihitung dengan cara menerapkan tarif Pasal 17 atas jumlah kumulatif jumlah kumulatif 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto yang dibayarkan atau terutang dalam 1 (satu) tahun kalender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bandingkan dengan ketentuan sebelum tahun 2009, dimana besarnya tariff efektif PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli adalah sebesar 7,5% dari Penghasilan Bruto, terlihat bahwa perhitungan PPh pasal 21 atas imbalan tenaga ahli sebelum tahun 2009 jauh lebih sederhana dibandingkan dengan yang saat ini berlaku. Dalam menghitung besarnya PPh21 yang terutang dan harus dipotong, Pihak Pemberi Penghasilan selaku pemotong pajak tidak perlu menghitung berapa jumlah kumulatif penghasilan yang telah dibayarkan kepada tenaga ahli yang bersangkutan dalam satu tahun kalender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan kumulatif hanya diperlukan pada saat pemotong pajak melaporkan SPT Tahunan PPh pasal 21. Dalam pengisian SPT 1721, jumlah kumulatif penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli dalam satu tahun kalender dilaporkan (diinformasikan kembali) dalam formulir 1721-B dan juga dirinci untuk masing-masing tenaga ahli penerima penghasilan dalam formulir 1721-C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahun 2009, Pada saat menghitung PPh 21 yang terutang, untuk dapat menerapkan tariff yang benar, pemotong pajak harus mengetahui jumlah kumulatif penghasilan yang telah dibayarkan kepada tenaga ahli tersebut sampai dengan saat pemotongan. Dalam lapisan tariff terendah telah digunakan penuh, maka pemotongan akan menggunakan lapisan tariff berikutnya seperti contoh sebagaimana tertera dalam lampiran PER-31 berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir. Garda Suganda, adalah seorang arsitek, pada bulan Maret 2009 menerima fee sebesar Rp 100.000.000,00 dari PT Selaras Propertindo sebagai imbalan pemberian jasa yang dilakukannya. Pada bulan Juli 2009 menrima pelunasan sisa fee sebesar Rp 50.000.000.&lt;br /&gt;Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang dan harus dipotong atas penghasilan Ir Garda Suganda adalah sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthR_xr88ZI/AAAAAAAAAAc/DU_cf4CqYsg/s1600-h/gb2.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393150709887463826" src="http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthR_xr88ZI/AAAAAAAAAAc/DU_cf4CqYsg/s400/gb2.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 117px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjelasan Perhitungan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Maret 2009, jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda sebesar Rp 50.000.000 (belum lebih dari 50juta),sehingga atas penghasilan yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda harus dipotong PPh pasal 21 sebesar 5% dari 50% Jumlah penghasilan bruto yang diterima. Sementara itu, Pada bulan Juli 2009, jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto yang dibayarkan kepadan Ir Garda Suganda telah melebihi Rp 50.000.000, sehingga tariff yang berlaku adalah 15% dari 50% Jumlah penghasilan bruto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila pada bulan-bulan berikutnya PT Selaras Propertindo membayar imbalan Jasa Arsitek kepada Ir Garda Suganda, besarnya tariff PPh 21 yang akan dikenakan mengikuti besarnya jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto. Misalnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Agustus Imbalan yang dibayarkan sebesar Rp 200 Juta dan bulan September sebesar Rp 200 Juta, maka besarnya PPh 21 yang harus dipotong atas imbalan yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda pada bulan Agustus dan September adalah sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/StnzsjQ9qiI/AAAAAAAAABE/OyVt4JM3rYM/s1600-h/ralat.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393609975459064354" src="http://3.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/StnzsjQ9qiI/AAAAAAAAABE/OyVt4JM3rYM/s400/ralat.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 163px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah kumulatif 50% Penghasilan Bruto yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda pada bulan Agustus adalah sebesar Rp 175Juta (belum lebih dari Rp 250Juta), sehingga atas penghasilan yang dibayarkan kepada Ir Suganda tersebut terutang PPh pasal 21 dengan tariff 15% dari 50% x Jumlah imbalan bruto yang diterima. Pada bulan September 2009, jumlah kumulatif penghasilan bruto yang dibayarkan kepada Ir Garda Suganda sebesar Rp 275 Juta (telah melebihi Rp 250Juta), oleh karena itu atas jumlah kumulatif 50% penghasilan bruto diatas 250juta akan dikenakan tariff 25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perubahan ketentuan ini, Wajib Pajak selaku Pemotong pajak, harus lebih rapi mengadministrasikan data-data pembayaran kepada tenaga ahli. Sebelum pembayaran dilakukan, pemberi penghasilan harus terlebih dahulu mengetahui berapa jumlah kumulatif 50% penghasilan bruto yang dibayarkan kepada tenaga ahli tertentu, agar dapat menerapkan tariff yang tepat dan terhindar dari sanksi karena kurang memotong PPh pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PPh pasal 21 khusus untuk Dokter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam PER-31, terdapat penegasan khusus atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh dokter yang melakukan praktek di rumah sakit / Klinik. Besarnya penghasilan bruto yang menjadi dasar perhitungan adalah sebesar jasa dokter yang dibayarkan pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit dan/atau klinik. Dengan demikian, penghasilan yang menjadi dasar perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan yang diterima/diperoleh oleh dokter bukan berdasarkan penghasilan yang riil diterima oleh dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan Pemotongan dan Penyetoran PPh selama periode Januari s/d April 2009.&lt;br /&gt;Dalam PMK-252 yang digunakan sebagai acuan wajib pajak dalam melakukan pemotongan PPh pasal 21 atas imbalan yang dibayarkan kepada tenaga ahli sejak Masa Januari s/d April 2009 , tidak terdapat ketentuan mengenai 50% dari jumlah kumulatif imbalan bruto sebagai dasar pengenaan pajak. Pasal 15 ayat (1) PMK-252, antara lain mengatur bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan diterapkan atas::&lt;br /&gt;a. jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran yang didasarkan pada penyelesaian suatu pekerjaan atau jasa yang menurut maksudnya tidak bersifat berkesinambungan, yang diterima oleh bukan pegawai;&lt;br /&gt;b. jumlah bruto untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah, yang diterima oleh peserta kegiatan; atau&lt;br /&gt;c. jumlah kumulatif penghasilan bruto sebagai imbalan atas pekerjaan atau jasa yang menurut maksudnya bersifat berkesinambungan, baik berdasarkan kontrak atau perjanjian tertulis atau berdasarkan keadaan yang sebenarnya, yang diterima oleh bukan pegawai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan yang diterima oleh tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas termasuk dalam kelompok penghasilan yang diterima oleh bukan pegawai. Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan pasal 15 ayat 1 PMK-252, PPh pasal 21 yang terutang dan telah dipotong oleh pemberi penghasilan adalah sesuai tarif pasal 17 dari jumlah kumulatif penghasilan bruto yang dibayarkan. Namun demikian, dalam Per-31 yang diterbitkan tanggal 25 Mei 2009 dan berlaku surut sejak 1 Januari 2009, terdapat ‘ketentuan baru’ yang mengatur bahwa besarnya PPh 21 yang terutang atas penghasilan yang diterima oleh tenaga ahli adalah tarif pasal 17 atas jumlah kumulatif 50% dari jumlah penghasilan bruto. Dengan adanya “penurunan tariff” tersebut maka akan terdapat kelebihan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pindahbuku atau kompensasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya ‘ketentuan baru’ yang mengakibatkan terjadinya kelebihan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 sejak Jan 2009, tentu menimbulkan banyak pertanyaan bagi wajib pajak, seperti :&lt;br /&gt;- Apakah bukti potong yang telah diterbitkan harus direvisi dan dilakukan pembetulan SPT Masa?&lt;br /&gt;- Apakah kelebihan pemotongan tersebut harus dikembalikan ke tenaga ahli yang bersangkutan?&lt;br /&gt;- Apakah kelebihan penyetoran tersebut harus diajukan pemindahbukuan atau dikompensasikan secara otomatis? Bagaimana mekanismenya?&lt;br /&gt;- Dll..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, dalam PER-31 belum terdapat klausul yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 22 ayat 7 PER-31 mengatur bahwa “Dalam hal dalam suatu bulan terjadi kelebihan penyetoran pajak atas PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang, oleh Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26, kelebihan penyetoran tersebut dapat diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 yang terutang pada bulan berikutnya melalui Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26”&lt;br /&gt;Merujuk pada pasal 22 tersebut, maka atas kelebihan pemotongan dan penyetoran PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli periode Jan – April 2009 dapat dikompensasikan (diperhitungkan dengan pembayaran bulan selanjutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tips &amp;amp; Trick&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah diuraikan di atas, perhitungan PPh 21 atas penghasilan yang diterima oleh tenaga ahli dihitung berdasarkan tariff pasal 17 atas jumlah kumulatif 50% dari penghasilan bruto. Oleh karena itu, pada saat melakukan pembayaran professional fee kepada tenaga ahli, pemotong pajak harus sudah mengetahui jumlah kumulatif penghasilan bruto yang telah dibayarkan kepada tenaga ahli yang bersangkutan agar dapat menghitung PPh 21 yang terutang dan harus dipotong dengan tepat.&lt;br /&gt;Berikut ini ilustrasi table yang bisa membantu untuk memonitor perhitungan PPh pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada tenaga ahli sesuai contoh data PT Selaras Propertindo bulan Agustus 2009 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthTKhwZuRI/AAAAAAAAAAs/pH4D54_FWt4/s1600-h/gb4.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393151994101348626" src="http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthTKhwZuRI/AAAAAAAAAAs/pH4D54_FWt4/s400/gb4.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 161px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-446083228276412789?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/446083228276412789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/446083228276412789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pph-pasal-21-atas-penghasilan-yang.html' title='PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang diterima  Tenaga Ahli'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aiFbxIbkh5Y/SthREE6fleI/AAAAAAAAAAU/Su1Y3Wlg894/s72-c/gb11.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-4168753512279398021</id><published>2009-10-15T19:47:00.003+07:00</published><updated>2010-10-13T22:33:13.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><title type='text'>PPh Pasal 21 Atas Penghasilan Dokter</title><content type='html'>Pada tahun 2009 ini berlaku Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Salah satu hal yang mengalami perubahan adalah ketentuan tentang pemotongan PPh Pasal 21. Ketentuan pelaksanaan tentang hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2009 tanggal 31 Desember 2008 dengan petunjuk teknisnya diatur dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 tanggal 25 Mei 2009. Berdasarkan bingkai dua ketentuan inilah saya menuliskan tentang pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan dokter.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketentuan Dalam Peraturan Menteri Keuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dokter dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 ini termasuk dalam kelompok tenaga ahli. Tenaga ahli sendiri masuk dalam kelompok penerima penghasilan bukan pegawai seperti kita temukan dalam Pasal 3 peraturan ini. Definisi Penerima Penghasilan Bukan Pegawai adalah orang pribadi selain pegawai tetap dan pegawai tidak tetap (tenaga kerja lepas) yang memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sebagai imbalan atas pekerjaan, jasa atau kegiatan tertentu yang dilakukan berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara menghitung PPh Pasal 21 nya? Dasar pengenaan pajaknya adalah Penghasilan Kena Pajak (Pasal 9) di mana Penghasilan Kena Pajak ii adalah Penghasilan Bruto dikurangi PTKP (Pasal 10 ayat 2). Namun demikian, pengurangan PTKP ini harus memenuhi syarat sebagaiamana diatur dalam Pasal 12 di antaranya adalah  hanya berpenghasilan dari pemotong pajak saja. Bagi dokter sarat ini nampaknya sulit dipenuhi karena biasanya dia punya sumber penghasilan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengenaan PPh Pasal 21 atas dokter yang berstatus bukan sebagai pegawai adalah dengan menerapkan tarif Pasal 17 kali kumulatif penghasilan  bruto sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (1) huruf c. Kata-kata ”kumulatif” menunjukkan bahwa pengenaan tarif Pasal 17 memperhatikan penghasilan dokter bulan-bulan sebelumnya dalam satu tahun pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketentuan Dalam Peraturan Dirjen Pajak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dokter dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 termasuk pula dalam kelompok tenaga ahli di mana tenaga ahli juga masih termasuk dalam kelompok penerima penghasilan bukan pegawai. Namun demikian, cara perhitungan PPh Pasal 21 nya ”sedikit” menyimpang dari Peraturan Menteri Keuangan. Di Pasal 9 ayat (1) huruf c Peraturan Dirjen, dasar pengenaan pajak bagi tenaga ahli (berarti juga dokter) yang melakukan pekerjaan bebas adalah 50% dari jumlah penghasilan bruto. Khusus mengenai dokter, Pasal 10 ayat (6) memberikan penjelasan tentang penghasilan bruto dokter yaitu bahwa dalam hal penghasilan dokter yang melakukan praktek di rumah sakit atau klinik maka penghasilan bruto adalah sebesar jasa dokter yang dibayar pasien melalui rumah sakit/klinik  sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit/klinik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Prakteknya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika melihat penjelasan di atas nampaknya ada perbedaan  cara menghitung PPh Pasal 21 atas dokter yang praktek di rumah sakit/klinik. Dalam peraturan menteri, PPh Pasal 21 atas dokter ini adalah sebesar tarif pasal 17 dikalikan kumulatif penghasilan bruto. Namun demikian, di peraturan Dirjen, PPh Pasal 21 dokter ini adalah sebesar tarif Pasal 17 dikalikan penghasilan bruto (tanpa kumulatif?). Nah, kalau bagi dokter sih tentunya lebih menguntungkan perhitungan dari peraturan Dirjen karena ada pengurang 50% walaupun tarif dikenakan terhadap penghasilan bruto sebelum dikurangi bagi hasil dengan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk memperjelas bagaimana cara menghitungnya, khusus dokter, ada contohnya di lampiran PER-31/PJ/2009. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa penghitungan PPh Pasal 21 atas dokter adalah dengan menerapkan tarif  Pasal 17 terhadap kumulatif 50% penghasilan bruto tanpa memperhatikan berapa persen berapa bagian bagi hasil buat rumah sakit/klinik. Untuk menjelaskan ini saya buatkan contoh sangat sederhana di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan dr. Prita praktek di RS Internasional dengan perjanjian bagi hasil jasa dokter 80% buat dokter dan 20% buat rumah sakit dari jasa dokter yang dibayar pasien. Jasa dokter yang dibayar pasien buat dr. Prita pada bulan Januari Rp50.000.000 dan bulan Pebruari 60.000.000. PPh Pasal 21 yang dipotong  oleh RS Omni International pada bulan Januari adalah 5% x 50% x Rp50 jt = Rp. 1.250.000.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan bulan Pebruari?. Kumulatif 50% penghasilan bruto bulan Pebruari adalah 50% x (Rp50 jt + Rp60 jt) = Rp55 Juta. Dasar pengenaan pajak bulan Pebruari adalah Rp55 juta – Rp25 juta = Rp 30 juta. Nah, dari Rp 30 Juta ini, 25 Juta kena tarif 5% dan di atasnya Rp5 Juta kena tarif 15%. Jadi, PPh Pasal 21 bulan Pebruari adalah 5%x25 jt + 15%x5jt = Rp 2 Juta.&lt;br /&gt;Ada penjelasan resmi tentang bagaimana perhitungan Pajak Penghasilan bagi dokter ini di situs resmi Direktorat Jenderal Pajak. Penjelasan ini diberikan dalam bentuk file pdf..&lt;br /&gt;www.pajak.go.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-4168753512279398021?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/4168753512279398021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/4168753512279398021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pph-pasal-21-atas-penghasilan-dokter.html' title='PPh Pasal 21 Atas Penghasilan Dokter'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-7025829746292329381</id><published>2009-10-12T22:12:00.001+07:00</published><updated>2010-10-13T22:34:40.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><title type='text'>SPT Masa PPh Pasal 21 Baru</title><content type='html'>SPT Masa PPh Pasal 21 berubah! Ya, bentuk formulir SPT Masa PPh Pasal 21 berubah dengan terbitnya Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-32/PJ/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini mengatur tentang bentuk formulir SPT Masa PPh Pasal 21 yang merupakan kelanjutan dari terbitnya PER-31/PJ/2009 sebagai petunjuk pemotongan PPh Pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Nama formulir SPT Masa PPh Pasal 21 ini adalah formulir 1721 (sama dengan SPT Tahunan PPh Pasal 21 yang dulu). Namun demikian, bentuk formulir ini lebih mengikuti format SPT Masa PPh Pasal 21 sebelumnya dengan memberikan ruang terhadap ketentuan-ketentuan baru PPh Pasal 21 seperti ada perhitungan setahun pada masa Desember, adanya kompensasi dari masa sebelumnya dan kompensasi ke masa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Formulir 1721 - I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini merupakan daftar bukti pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tetap/penerima pensiun. Fungsinya sama dengan formulir 1721 A dulu. Formulir ini hanya dilampirkan di masa Desember saja. Namun demikian, Wajib Pajak tidak perlu melampirkan formulir 1721 A1 atau A2 sebagaimana dulu di SPT Tahunan PPh Pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Formulir 1721 - II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini merupakan daftar perubahan pegawai tetap dan hanya dilampirkan pada saat ada pegawai tetap yang keluar atau masuk dan ada pegawai tetap yang baru memiliki NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Formulir 1721 – T&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini merupakan daftar pegawai tetap/penerima pensiunan berkala. Dilampirkan hanya pada saat pertama kali Wajib Pajak berkewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21. Bagi Wajib Pajak yang sudah memiliki kewajiban penyampaian SPT Masa PPh Pasal 21, maka formulir ini harus disampaikan pada masa Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Formulir 1721 A1 atau A2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini kalau dilihat sepintas sama saja dengan formulir 1721 A1-A2 yang lama, fungsinyapun sama saja, hanya saja formulir ini sekarang merupakan pendukung dari formulir SPT Masa PPh Pasal 21 pada bulan Desember saja walaupun tidak dilampirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukti Potong PPh Pasal 21 Non Pegawai Tetap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk SPT Masa PPh Pasal 21 masa Januari sampai dengan Desember, tetap saja ada daftar bukti potong dan bukti potong untuk penerima penghasilan selain pegawai tetap. Nah, kalau praktek seperti ini sama saja dengan sebelumnya. Yang membedakan mungkin di masa Desember yang ada perhitungan PPh Pasal 21 pegawai tetap selama setahun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-7025829746292329381?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7025829746292329381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7025829746292329381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/spt-masa-pph-pasal-21-baru.html' title='SPT Masa PPh Pasal 21 Baru'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-2612467016744084140</id><published>2009-10-11T23:24:00.002+07:00</published><updated>2010-10-13T22:35:02.243+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><title type='text'>SPT Masa PPh Pasal 21 Baru (Tidak Ada Lagi SPT Tahunan Pasal 21)</title><content type='html'>Ketika kemarin saya memberikan sosialisasi PPh Pasal 21 kepada beberapa koperasi, ada seorang ibu menanyakan tentang bagaimana nasibnya bukti potong PPh Pasal 21 pegawai tetap 1721 A1, padahal SPT Tahunan sudah pasti tidak akan ada lagi tahun depan sementara 1721 A1 adalah bagian dari SPT Tahunan PPh Pasal 21. Pertanyaan ini sebenarnya pertanyaan saya dan banyak orang sejak disahkannya UU Nomor 28 Tahun 2007. Waktu itu saya hanya menjawab, nanti akan ada peraturan yang mengatur bentuk formulir PPh Pasal 21 ini. Nah, pagi ini, ketika saya buka portaldjp tenyata ada peraturan tersebut yaitu Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-32/PJ/2009.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini mengatur tentang bentuk formulir SPT Masa PPh Pasal 21 yang merupakan kelanjutan dari terbitnya PER-31/PJ/2009 sebagai petunjuk pemotongan PPh Pasal 21. Nama formulir SPT Masa PPh Pasal 21 ini adalah formulir 1721 (sama dengan SPT Tahunan PPh Pasal 21 yang dulu). Namun demikian, bentuk formulir ini lebih mengikuti format SPT Masa PPh Pasal 21 sebelumnya dengan memberikan ruang terhadap ketentuan-ketentuan baru PPh Pasal 21 seperti ada perhitungan setahun pada masa Desember, adanya kompensasi dari masa sebelumnya dan kompensasi ke masa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir 1721 – I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini merupakan daftar bukti pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tetap/penerima pensiun. Fungsinya sama dengan formulir 1721 A dulu. Formulir ini hanya dilampirkan di masa Desember saja. Namun demikian, Wajib Pajak tidak perlu melampirkan formulir 1721 A1 atau A2 sebagaimana dulu di SPT Tahunan PPh Pasal 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir 1721 – II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini merupakan daftar perubahan pegawai tetap dan hanya dilampirkan pada saat ada pegawai tetap yang keluar atau masuk dan ada pegawai tetap yang baru memiliki NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir 1721 – T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini merupakan daftar pegawai tetap/penerima pensiunan berkala. Dilampirkan hanya pada saat pertama kali Wajib Pajak berkewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21. Bagi Wajib Pajak yang sudah memiliki kewajiban penyampaian SPT Masa PPh Pasal 21, maka formulir ini harus disampaikan pada masa Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir 1721 A1 atau A2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir ini kalau dilihat sepintas sama saja dengan formulir 1721 A1-A2 yang lama, fungsinyapun sama saja, hanya saja formulir ini sekarang merupakan pendukung dari formulir SPT Masa PPh Pasal 21 pada bulan Desember saja walaupun tidak dilampirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Download : &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/5051486/PJth2009tgBentukFormulirSPTMasaPPh21DanAtauPasal26.zip.html"&gt;PER-32/PJ/2009 dan Formulir SPT Masa PPh Pasal 21&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-2612467016744084140?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2612467016744084140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2612467016744084140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/spt-masa-pph-pasal-21-baru-tidak-ada.html' title='SPT Masa PPh Pasal 21 Baru (Tidak Ada Lagi SPT Tahunan Pasal 21)'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-4389660336502703762</id><published>2009-10-11T23:16:00.000+07:00</published><updated>2009-10-11T23:19:35.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><title type='text'>PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah</title><content type='html'>Baru-baru ini Menteri Keuangan mengeluarkan peraturan tentang PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah yang merupakan bagian dari program stimulus fiskal. Berikut adalah beberapa informasi tentang PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah yang saya susun dalam bentuk pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa latar belakang insentif PPh Pasal 21 DTP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang pemberian insentif PPh Pasal 21 DTP ini adalah dalam rangka mengurangi dampak krisis global yang berakibat pada penurunan kegiatan perekonomian nasional dan untuk mendorong peningkatan daya beli masyarakat pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dasar hukum pemberian insentif PPh Pasal 21 DTP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.03/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.03/2009&lt;br /&gt;   2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-22/PJ/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-26/PJ/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berhak atas PPh Pasal 21 DTP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah ini diberikan kepada pekerja yang bekerja pada pemberi kerja yang berusaha pada kategori usaha tertentu, dengan jumlah penghasilan bruto di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak dan tidak lebih dari Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dalam satu bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan kategori usaha tertentu tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori usaha tertentu tersebut adalah adalah kategori usaha pertanian termasuk perkebunan dan peternakan, perburuan, dan kehutanan, kategori usaha perikanan, dan kategori usaha industri pengolahan yang rinciannya tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Keuangan Nomor 43/PMK.03/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.03/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan penghasilan bruto?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penghitungan PPh Pasal 21, penghasilan bruto adalah penghasilan-penghasilan yang diberikan pemberi kerja kepada pekerja, pegawai atau karyawan yang merupakan objek pajak sebelum dikurangi pengurang yang diperkenankan seperti iuran pensiun dan biaya jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah insentif PPh Pasal 21 DTP ini berlaku juga bagi pegawai yang tidak ber NPWP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah ini diberikan kepada seluruh pekerja yang memenuhi syarat sampai dengan masa Juni 2009. Mulai masa Juli 2009, insentif PPh Pasal 21 DTP ini diberikan kepada pekerja yang memenuhi syarat dan telah memiliki NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika PPh Pasal 21 selama ini ditanggung perusahaan, apakah insentif PPh Pasal 21 DTP ini untuk karyawan atau untuk perusahaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun PPh Pasal 21 selama ini ditanggung pemberi kerja, insentif PPh Pasal 21 ditanggung pemerintah ini tetap harus diberikan kepada pekerja yang memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah PPh Pasal 21 DTP ini dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah ini dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi pekerja atau karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan mekanisme pelaporan oleh perusahaan selaku pemberi kerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pemberi kerja wajib menyampaikan realisasi pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan formulir yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;   2. Atas Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah wajib dibuatkan Surat Setoran Pajak yang dibubuhi cap atau tulisan “PPh PASAL 21 DITANGGUNG PEMERINTAH EKS PMK NO 43/PMK.03/2009” oleh pemberi kerja.&lt;br /&gt;   3. Formulir dan Surat Setoran Pajak tersebut dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 pada Masa Pajak yang sama.&lt;br /&gt;   4. Pemberi kerja wajib memberikan bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapankah insentif PPh Pasal 21 DTP dapat dinikmati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah berlaku untuk Pajak Penghasilan Pasal 21 yang terutang untuk Masa Pajak Februari 2009 sampai dengan Masa Pajak November 2009 dan dilaporkan paling lama tanggal 20 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-4389660336502703762?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/4389660336502703762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/4389660336502703762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pph-pasal-21-ditanggung-pemerintah.html' title='PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-6664787830568951745</id><published>2009-10-11T23:00:00.002+07:00</published><updated>2009-10-11T23:03:53.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><title type='text'>PPh Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap 2009</title><content type='html'>Berikut ini akan dibahas mengenai tata cara, tarif dan contoh penghitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar hukum:&lt;br /&gt;• Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 tahun 2009&lt;br /&gt;• Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan Pemotongan Pajak Atas Penghasilan Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, Dan Kegiatan Orang Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-254/PMK. 03/2008 tentang Penetapan Bagian Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan Pegawai Harian Dan Mingguan Serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak dikenakan Pemotongan Pajak Penghasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Pegawai Tidak Tetap&lt;br /&gt;Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jenis Penghasilan Pegawai Tidak Tetap&lt;br /&gt;Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara bulanan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Upah harian adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan secara harian.&lt;br /&gt;2. Upah mingguan adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan secara mingguan.&lt;br /&gt;3. Upah satuan adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan berdasarkan jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan.&lt;br /&gt;4. Upah borongan adalah upah atau imbalan yang diterima atau diperoleh pegawai yang terutang atau dibayarkan berdasarkan penyelesaian suatu jenis pekerjaan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Pengenaan dan Pemotongan PPh Pasal 21&lt;br /&gt;Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 pegawai tidak tetap adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penghasilan Kena Pajak yang penghasilannya di bayar secara bulanan atau jumlah kumulatif penghasilan yang diterima selama 1 (satu) bulan kalender telah melebihi jumlah PTKP sebulan untuk wajib pajak sendiri.&lt;br /&gt;b. Jumlah penghasilan yang melebihi bagian penghasilan yang tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) Undang-Undang Pajak Penghasilan ( Rp 150.000,00   sehari), sepanjang penghasilan kumulatif yang diterima dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi jumlah PTKP sebulan untuk diri Wajib Pajak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak&lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak bagi pegawai tidak tetap adalah sebesar penghasilan bruto dikurangi PTKP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)&lt;br /&gt;PTKP sebulan  adalah PTKP dibagi 12 (dua belas).&lt;br /&gt;Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah bagi:&lt;br /&gt;• Wajib Pajak :  Rp 15.840.000,- setahun &lt;br /&gt;• Tambahan status kawin :  Rp 1.320.000,-&lt;br /&gt;• Istri Bekerja : Rp 15.840.000,-&lt;br /&gt;• Tambahan tanggungan       : Rp 1.320.000,- (Maksimal 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Penghasilan  yang Tidak dikenakan Pemotongan PPh Pasal 21&lt;br /&gt;Bagian Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan Pegawai Harian Dan Mingguan Serta Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak dikenakan Pemotongan Pajak Penghasilan:&lt;br /&gt;• Batas penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh   sampai dengan jumlah Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah)  sehari&lt;br /&gt;• Ketentuan di atas tidak berlaku dalam hal penghasilan bruto jumlahnya  melebilhi Rp 1.320.000 (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah) sebulan dalam hal penghasilan dimaksud dibayar secara bulanan.&lt;br /&gt;• Ketentuan di atas tidak berlaku atas penghasilan berupa honorarium atau komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang dan petugas dinas luar asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh Pasal 21 pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang tidak di bayar secara bulanan &lt;br /&gt;Atas penghasilan bagi pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang tidak di bayar secara bulanan atau jumlah kumulatifnya dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi PTKP sebulan untuk diri Wajib Pajak sendiri berlaku ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.  Tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari belum melebihi Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah)  sehari;&lt;br /&gt;b. Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari atau rata-rata penghasilan sehari melebihi Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah), dan bagian penghasilan yang tidak dilakukan pemotongan tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.&lt;br /&gt;• Rata-rata penghasilan sehari adalah rata-rata upah mingguan, upah satuan atau upah borongan untuk setiap hari kerja yang digunakan. &lt;br /&gt;• Dalam hal pegawai tidak tetap telah memperoleh penghasilan kumulatif dalam 1 (satu) bulan kalender yang melebihi PTKP sebulan untuk diri Wajib Pajak sendiri, maka jumlah yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar PTKP yang sebenarnya. &lt;br /&gt;• PTKP yang sebenarnya  adalah sebesar PTKP untuk jumlah hari kerja yang sebenarnya. &lt;br /&gt;• PTKP sehari sebagai dasar untuk menetapkan PTKP yang sebenarnya adalah sebesar PTKP dibagi 360 (tiga ratus enam puluh) hari. &lt;br /&gt;• Dalam hal berdasarkan ketentuan di bidang ketenagakerjaan diatur kewajiban untuk mengikutsertakan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas dalam program jaminan hari tua atau tunjangan hari tua, maka iuran jaminan hari tua atau iuran tunjangan hari tua yang dibayar sendiri oleh pegawai tidak tetap kepada badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja atau badan penyelenggara tunjangan hari tua, dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif PPh Pasal 21&lt;br /&gt;1. Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak dari Pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang dibayarkan secara bulanan &lt;br /&gt;2. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku harian, sepanjang penghasilan tidak dibayarkan secara bulanan, tarif lapisan pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan (5%) diterapkan atas: &lt;br /&gt;o jumlah penghasilan bruto di atas bagian penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) Undang-Undang Pajak Penghasilan ; atau &lt;br /&gt;o jumlah penghasilan bruto dikurangi PTKP yang sebenarnya dalam hal jumlah penghasilan kumulatif dalam 1 (satu) bulan kalender telah melebihi PTKP sebulan untuk diri Wajib Pajak sendiri. &lt;br /&gt;3. Dalam hal jumlah penghasilan kumulatif dalam satu bulan kalender telah melebihi Rp 6.000.000,00 ( enam juta rupiah), PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Pajak Penghasilan atas jumlah Penghasilan Kena Pajak yang disetahunkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Penghitungan PPh Pasal 21 &lt;br /&gt;Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku harian, sepanjang penghasilan tidak dibayarkan secara bulanan:&lt;br /&gt;1. Tentukan jumlah upah/uang saku harian, atau rata-rata/uang saku yang diterima atau diperoleh dalam sehari; – Upah/uang saku mingguan dibagi 6; &lt;br /&gt;o Upah satuan dikalikan dengan jumlah rata-rata satuan yang dihasilkan dalam sehari; &lt;br /&gt;o Upah borongan dibagi dengan jumlah hari yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan borongan. &lt;br /&gt;2. Dalam hal upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian belum melebihi Rp. 150.000,00 dan jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp. 1.320.000, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang harus dipotong. &lt;br /&gt;3. Dalam hal upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian telah melebihi Rp. 150.000,00 dan sepanjang jumlah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp. 1.320.000, maka PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar upah/uang saku harian atau rata-rata upah/uang saku harian setelah dikurangi Rp. 150.000,00, dikalikan 5%. &lt;br /&gt;4. Dalam hal jumlah upah kumulatif yang diterima atau diperoleh dalam bulan takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp. 1.320.000, maka PPh Pasal 21 yang terutang dihitung dengan mengurangkan PTKP yang sebenarnya, yaitu sebanding dengan banyaknya hari, dari jumlah upah bruto yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh PPh Pasal 21 atas penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas berupa upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku harian, sepanjang penghasilan tidak dibayarkan secara bulanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN UPAH HARIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh penghitungan :   &lt;br /&gt;Arifin dengan status belum menikah. pada bulan Januari 2009 bekerja sebagai buruh harian pada PT Jaya Makmur. Ia bekerja selama 10 hari dan menerima upah harian sebesar Rp 150.000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghitungan PPh Pasal 21 terutang :&lt;br /&gt;Upah sehari Rp 150.000,00 &lt;br /&gt;Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan pemotongan PPh Rp 150.000,00 &lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak Sehari Rp 0 &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 dipotong atas Upah Sehari : Rp 0 &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Sampai dengan hari ke-8, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum melebihi Rp 1.320.000,00, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong.&lt;br /&gt;Misalkan Arifin bekerja selama 9 hari, maka pada hari ke-9, setelah jumlah kumulatif upah yang diterima melebihi Rp 1.320.000,00, maka PPh Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah s.d. hari ke-9 (Rp 150.000,00 x 9) Rp  1.350.000  &lt;br /&gt;PTKP sebenarnya (Rp 15.840.000 x 9/360) Rp 396.000  &lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak s.d. hari ke-9 Rp 954.000  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-9   &lt;br /&gt;Rp 954.000 x 5% Rp 47.700  &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-8 Rp –  &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-9 Rp 47.700  &lt;br /&gt;Sehingga pada hari ke-9, upah bersih yang diterima sebesar : &lt;br /&gt;Rp 150.000,00 – Rp 47.700 = Rp 102.300,00 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan Arifin bekerja selama 10 hari, maka penghitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-10 adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Upah s.d. hari ke-10 (Rp 150.000,00 x 10) Rp  1.500.000  &lt;br /&gt;PTKP sebenarnya (Rp 15.840.000 x 10/360) Rp 440.000  &lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak s.d. hari ke-10 Rp 1.060.000  &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-10   &lt;br /&gt;Rp 1.060,00 x 5% Rp 53.000,00 &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 telah dipotong s.d hari ke-9 Rp 47.700,00 &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-10 Rp 5.300,00 &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Sehingga pada hari ke-10, Arifin menerima upah bersih sebesar : &lt;br /&gt;Rp 150.000,00 – Rp 5.300,00 = Rp 144.700,00&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DENGAN UPAH SATUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh penghitungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tono adalah seorang karyawan yang bekerja sebagai perakit TV pada suatu perusahaan elektronika, dia tidak menikah. Upah yang dibayar berdasarkan atas jumlah unit/satuan yang diselesaikan yaitu Rp 25.000,00 per buah TV dan dibayarkan tiap minggu. Dalam waktu 1 minggu (6 hari kerja) dihasilkan sebanyak 30 buah TV dengan upah Rp 960.000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghitungan PPh Pasal 21 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah sehari adalah   &lt;br /&gt;Rp 960.000,00 : 6 Rp 160.000  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Upah diatas Rp 150.000,00 sehari   &lt;br /&gt;Rp 160.000,00 – Rp 150.000,00 Rp 10.000  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Upah seminggu terutang pajak   &lt;br /&gt;6 x Rp 10.000,00 Rp 60.000  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;PPh Pasal 21 &lt;br /&gt;5% : Rp 60.000,00 = Rp 3.000,00 (Mingguan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DENGAN UPAH BORONGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Penghitungan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu mengerjakan dekorasi sebuah rumah dengan upah borongan sebesar Rp 400.000,00, pekerjaan diselesaikan dalam 2 hari.&lt;br /&gt;Upah borongan sehari : Rp 400.000,00 : 2 =  Rp 200.000  &lt;br /&gt;Upah harian diatas Rp 150.000,00   &lt;br /&gt;Rp 200.000,00 – Rp 150.000,00 Rp 50.000  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Upah borongan pajak   &lt;br /&gt;2 x Rp 50.000,00 Rp 100.000  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;PPh Pasal 21   &lt;br /&gt;5% x Rp 100.000,00 = Rp 5.000  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas, Pemagang dan Calon Pegawai yang Menerima Upah yang Dibayarkan Secara Bulanan :&lt;br /&gt;• PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh atas jumlah upah bruto yang yang disetahunkan setelah dikurangi PTKP, dan PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar PPh Pasal 21 hasil perhitungan tersebut dibagi 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Hidayat bekerja pada perusahaan elektronik dengan dasar upah harian yang dibayarkan bulanan. Dalam bulan Januari 2009 Hidayat hanya bekerja 20 hari kerja dan upah sehari adalah Rp 100.000,00. Hidayat menikah tetapi belum memiliki anak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Penghitungan PPh Pasal 21    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Upah Januari 2009= 20 x Rp 100.000,00 =  Rp 2.000.000 &lt;br /&gt;  Penghasilan neto setahun = 12 x Rp 2.000.000,00 = Rp 24.000.000 &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  PTKP (K/-) adalah sebesar  &lt;br /&gt;  Untuk WP sendiri Rp 15.840.000,00  &lt;br /&gt;  tambahan karena menikah Rp 1.320.000,00  &lt;br /&gt;     Rp 17.160.000 &lt;br /&gt;  Penghasilan Kena Pajak Rp 6.840.000 &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  PPh Pasal 21 setahun adalah sebesar :  &lt;br /&gt;  5% x Rp 6.840.000,00 = Rp 342.000 &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;  PPh Pasal 21 sebulan adalah sebesar :  &lt;br /&gt;  Rp 342.000,00 : 12 Rp 28.500&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-6664787830568951745?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6664787830568951745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6664787830568951745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/pph-pasal-21-pegawai-tidak-tetap-2009.html' title='PPh Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap 2009'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-9202395927424592245</id><published>2009-10-11T22:57:00.001+07:00</published><updated>2009-10-11T22:59:58.678+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasal 21'/><title type='text'>Perhitungan Pajak PPh 21 Tenaga Ahli</title><content type='html'>Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009, perhitungan pajak PPh 21 untuk jasa tenaga ahli (pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, aktuaris) sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dasar Pengenaan Pajak (DPP) : 50% x Penghasilan Bruto&lt;br /&gt;• PPh 21 : Tarif Pasal 17 x DPP kumulatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kasus :&lt;br /&gt;Bulan Maret 2009, jasa tenaga ahli sebesar 80 juta.&lt;br /&gt;DPP : 80 juta x 50% = 40 juta&lt;br /&gt;DPP kumulatif : 40 juta&lt;br /&gt;PPh 21 yang harus dipotong : 5% x 40 juta = 2.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Mei 2009, jasa tenaga ahli sebesar 60 juta.&lt;br /&gt;DPP : 60 juta x 50% = 30 juta&lt;br /&gt;DPP kumulatif : 40 juta + 30 juta = 70 juta&lt;br /&gt;PPh 21 : &lt;br /&gt;5% x 10 juta = 500.000&lt;br /&gt;15% x 20 juta = 3.000.000&lt;br /&gt;PPh 21 yang harus dipotong : 3.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika si pemberi jasa tidak punya NPWP, maka akan dipotong sebesar 120%.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-9202395927424592245?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/9202395927424592245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/9202395927424592245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/perhitungan-pajak-pph-21-tenaga-ahli.html' title='Perhitungan Pajak PPh 21 Tenaga Ahli'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-6720077850218077738</id><published>2009-10-09T01:16:00.001+07:00</published><updated>2009-10-09T01:18:22.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Norma Penghitungan'/><title type='text'>Norma Penghitungan Penghasilan Neto</title><content type='html'>Bagi sebagian orang pribadi yang memiliki usaha kewajiban membuat pembukuan merupakan suatu hal yang sulit dilakukan selain karena kurangnya pengetahuan mengenai Akuntansi juga mungkin tidak efisien jika harus mempekerjakan karyawan hanya untuk membuat pembukuan. Pasal 14 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak orang pribadi boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sehingga tidak perlu membuat pembukuan tetapi cukup hanya membuat pencatatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan pelaksanaan mengenai Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP – 536/PJ./2000 yang telah diubah dengan  Peraturan Menteri Keuangan Nomor  01/PMK.03/2007.&lt;br /&gt;Orang Pribadi yang boleh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto sebesar Rp. 1.800.000.000,00 (satu miliar delapan ratus juta rupiah) atau lebih dalam 1 (satu) tahun wajib menyelenggarakan pembukuan.&lt;br /&gt;   2. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto di bawah Rp. 1.800.000.000,00 (satu miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) tahun wajib menyelenggarakan pencatatan, kecuali Wajib Pajak yang bersangkutan memilih menyelenggarakan Pembukuan.&lt;br /&gt;   3. Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang tidak memilih untuk menyelenggarakan pembukuan, menghitung penghasilan neto usaha atau pekerjaan bebasnya dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan UU PPh yang baru yaitu UU Nomor 36 tahun 2008 maka  sejak 1 Jan 2009 batasan Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas yang boleh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan berubah dengan peredaran bruto di bawah Rp. 1.800.000.000,00 menjadi Rp 4.800.000.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kewajiban Bagi Penggunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Wajib Pajak yang menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto wajib memberitahukan mengenai penggunaan Norma Penghitungan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak awal tahun pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;   2. Pemberitahuan penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Neto yang disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dianggap disetujui kecuali berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Wajib Pajak tidak memenuhi persyaratan untuk menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.&lt;br /&gt;   3. Wajib Pajak yang tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dianggap memilih menyelenggarakan pembukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wajib Pajak yang menyelenggarakan Pembukuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   1. Wajib Pajak yang wajib menyelenggarakan pembukuan  yang ternyata tidak atau tidak sepenuhnya menyeIenggarakan pembukuan, penghasilan netonya dihitung dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.&lt;br /&gt;   2. Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam tahun pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Besarnya Norma penghitungan Penghasilan Neto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)        Norma penghitungan Penghasilan Neto dikelompokkan menurut wilayah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.         10 (sepuluh) ibukota propinsi yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.         ibukota propinsi lainnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.         daerah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)        Daftar Persentase Penghasilan Neto adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha atau pekerjaan bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Penghitungan penghasilan neto Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha atau pekerjaan bebas, dilakukan terhadap masing-masing jenis usaha dengan memperhatikan pengelompokan wilayah di atas.&lt;br /&gt;   2. Penghasilan neto Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha adalah penjumlahan penghasilan neto dari masing-masing jenis usaha atau pekerjaan bebas yang dihitung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menghitung Penghasilan Neto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Penghasilan neto bagi tiap jenis usaha dihitung dengan cara mengalikan angka persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto dengan peredaran bruto atau penghasilan bruto dari kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dalam 1 (satu) tahun.&lt;br /&gt;   2. Dalam menghitung besarnya Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak orang pribadi, sebelum dilakukan penerapan tarif umum terlebih dahulu dihitung Penghasilan Kena Pajak dengan mengurangkan Penghasilan Tidak Kena Pajak dari penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-6720077850218077738?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6720077850218077738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6720077850218077738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/norma-penghitungan-penghasilan-neto.html' title='Norma Penghitungan Penghasilan Neto'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-2703012332747288136</id><published>2009-10-09T00:52:00.004+07:00</published><updated>2009-10-09T01:15:59.094+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PTKP'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarif Pajak'/><title type='text'>Tarif Baru PPh dan PTKP</title><content type='html'>Salah satu perubahan mendasar yang dilakukan oleh Undang-undang Pajak Penghasilan baru adalah berubahnya tarif umum Pajak Penghasilan yang diatur dalam Pasal 17. Baik tarif untuk Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Wajib Pajak Badan, kedua-duanya mengalami perubahan. Namun demikian, sifat perubahannya berbeda. Apabila tarif PPh Orang Pribadi hanya berubah dalam hal tarif dan lapisan kena pajaknya, tetapi perubahan tarif PPh badan lebih ke jenis tarifnya yaitu dari tarif proporsional menjadi tarif tunggal (single tax).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tarif PPh Orang Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan tahun pajak 2008, tarif PPh Orang Pribadi adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Lapisan Penghasilan Kena Pajak s.d. Rp 25 Juta kena tarif 5%&lt;br /&gt;2. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Rp 25 Juta s.d. Rp 50 Juta kena tarif 10%&lt;br /&gt;3. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Rp 50 Juta s.d. Rp 100 Juta kena tarif 15%&lt;br /&gt;4. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Rp 100 Juta s.d. Rp 200 Juta kena tarif 25%&lt;br /&gt;5. Lapisan Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 200 Juta kena tarif 35%&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mulai tahun 2009, struktur tarifnya adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Lapisan Penghasilan Kena Pajak s.d. Rp 50 Juta kena tarif 5%&lt;br /&gt;2. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Rp 50 Juta s.d. Rp 250 Juta kena tarif 15%&lt;br /&gt;3. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Rp 250 Juta s.d. Rp 500 Juta kena tarif 25%&lt;br /&gt;4. Lapisan Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 500 Juta kena tarif 30%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari struktur tarif di atas terlihat bahwa perubahannya terletak pada pengurangan lapisan kena pajak, penurunan tarif tertinggi, dan perubahan rentang lapisan kena pajak. Sistem pentarifannya masih merupakan tarif proporsional. Namun demikian, secara umum bisa dikatakan bahwa perubahan tarif pada Wajib Pajak Orang Pribadi ini bersifat menurunkan tarif pajak. Hal ini berarti bisa kita baca sebagai keuntungan bagi masyarakat Wajib Pajak dan adanya potensi penurunan penerimaan pajak bagi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tarif PPh Badan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan tahun pajak 2008, tarif Pajak Penghasilan Badan menganut tarif proporsional dengan struktur sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Lapisan Penghasilan Kena Pajak s.d. Rp 50 Juta kena tarif 10%&lt;br /&gt;2. Lapisan Penghasilan Kena Pajak Rp 50 Juta s.d. Rp 100 Juta kena tarif 15%&lt;br /&gt;3. Lapisan Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 100 Juta kena tarif 30%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai tahun pajak 2009, tarif PPh Badan menganut sistem tarif tunggal atau single tax yaitu 28% dan akan menjadi 25% pada tahun 2010. Jadi berapapun penghasilan kena pajaknya, tarif yang dikenakan adalah satu yaitu 28% atau 25%. Khusus untuk perusahaan terbuka yang memenuhi syarat tertentu, tarif PPh Badan nya adalah 5% lebih rendah dari tarif umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, perubahan tarif PPh Badan ini menguntungkan bagi perusahaan-perushaan besar yang biasanya kena tarif lapisan tertinggi 30%. Namun bagi perusahaan-perusahaan kecil, yang biasanya kena tarif dengan lapisan kena pajak rendah tentu saja akan merugikan karena akan mengalami kenaikan tarif. Namun demikian, ada ketentuan baru dalam Pasal 31E yang memberikan fasilitas pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif umum untuk Wajib Pajak badan yang omzetnya tidak lebih dari Rp50 Milyar yang dikenakan terhadap penghasilan kena pajak dari bagian omzet sampai dengan Rp4,8 Milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PTKP Baru 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan Undang-undang Pajak Penghasilan yang baru, besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk tahun 2009 adalah sebagi berikut :&lt;br /&gt;• Rp15.840.000,-  untuk diri Wajib Pajak&lt;br /&gt;• Rp1.320.000,- tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin&lt;br /&gt;• Rp15.840.000,- tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung&lt;br /&gt;• Rp1.320.000,- tambahan untuk setiap anggota kelauarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenugnya, maksimal tiga orang untuk tiap keluarga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-2703012332747288136?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2703012332747288136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2703012332747288136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/tarif-baru-pph-ptkp.html' title='Tarif Baru PPh dan PTKP'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-2644022863388223641</id><published>2009-10-09T00:50:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T00:52:12.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjek Pajak'/><title type='text'>Subjek Pajak</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CKris%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Subjek Pajak terdiri dari Subjek Pajak dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Subjek Pajak dalam negeri&lt;/strong&gt; adalah:&lt;br /&gt;a. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia;&lt;br /&gt;b. orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan;&lt;br /&gt;c. orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;&lt;br /&gt;d. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak;&lt;br /&gt;e. badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian ‘badan’ adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapu n, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, erkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, embaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya termasuk reksadana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap unit tertentu dari badan Pemerintah, misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan merupakan Subjek Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria berikut tidak termasuk sebagai Subjek Pajak, yaitu:&lt;br /&gt;a. dibentuk berdasarkan peraturan perundang -undangan yang berlaku; dan&lt;br /&gt;b. dibiayai dengan dana yang bersumber dari APBN atau APBD; dan&lt;br /&gt;c. penerimaan lembaga tersebut dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Daerah; dan&lt;br /&gt;d. pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Subjek Pajak luar negeri&lt;/strong&gt; adalah:&lt;br /&gt;a. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia;&lt;br /&gt;b. orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan;&lt;br /&gt;c. badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia;&lt;br /&gt;d. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia;&lt;br /&gt;e. orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan;&lt;br /&gt;f. badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia,yang yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bentuk usaha tetap&lt;/strong&gt; / BUT ( &lt;em&gt;&lt;b&gt;permanent establishment &lt;/b&gt;&lt;/em&gt;) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh Subjek Pajak luar negeri untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa :&lt;br /&gt;a. tempat kedudukan manajemen;&lt;br /&gt;b. cabang perusahaan;&lt;br /&gt;c. kantor perwakilan;&lt;br /&gt;d. gedung kantor;&lt;br /&gt;e. pabrik;&lt;br /&gt;f. bengkel;&lt;br /&gt;g. pertambangan dan penggalian sumber alam; wilayah kerja pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan;&lt;br /&gt;h. perikanan, peternakan, p ertanian, perkebunan, atau kehutanan;&lt;br /&gt;i. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;&lt;br /&gt;j. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan;&lt;br /&gt;k. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;&lt;br /&gt;l. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Pajak Penghasilan menganut &lt;strong&gt;&lt;i&gt;resident principle&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; untuk Wajib Pajak dalam negeri dan &lt;strong&gt;&lt;i&gt;source principle&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt; untuk Wajib Pajak luar negeri, yang terlihat dari perlakuan pajaknya, yakni sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wajib Pajak dalam negeri :&lt;br /&gt;1). dikenakan pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia;&lt;br /&gt;2). berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum;&lt;br /&gt;3). wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT :&lt;br /&gt;pemenuhan kewajiban perpajaka nnya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dalam negeri, namun terbatas pada penghasilan yang bersumber dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Wajib Pajak luar negeri non -BUT :&lt;br /&gt;1). dikenakan pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;;&lt;br /&gt;2). berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan;&lt;br /&gt;3). tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan, karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan &lt;strong&gt;bermula dan berakhirnya&lt;/strong&gt; kewajiban pajak subjektif ?&lt;br /&gt;1. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri: (a) dimulai pada saat orang pribadi tersebut dilahirkan, berada, atau berniat untuk bertempat tinggal di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;; (b) berakhir pada saat meninggal dunia atau meninggalkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;2. Wajib Pajak badan dalam negeri: (a) dimulai pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;; (b) berakhir pada saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;3. Warisan yang belum terbagi: (a) dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut; (b) berakhir pada saat warisan tersebut selesai dibagi.&lt;br /&gt;4. Wajib Pajak orang pribadi atau badan luar negeri yang menjalankan usaha&lt;br /&gt;atau melakukan kegiatan melalui BUT: (a) dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT; (b) berakhir pada saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT.&lt;br /&gt;5. Wajib Pajak Orang pribadi atau badan luar negeri non-BUT: (a) dimulai pada saat orang pribadi atau badan tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;; (b) berakhir pada saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan tersebut.&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-2644022863388223641?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2644022863388223641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2644022863388223641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/subjek-pajak.html' title='Subjek Pajak'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-6191626618201686223</id><published>2009-10-09T00:45:00.001+07:00</published><updated>2009-10-09T00:50:09.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Subjek Pajak'/><title type='text'>Siapa Subjek Pajak?</title><content type='html'>Diantara postingan yang paling banyak mendapat komentar dan pertanyaan adalah postingan tentang subjek pajak. Ini diluar perkiraan saya sendiri. Pertanyaan melalui email kebanyakan dari para pekerja yang berdomisili di Luar Negeri lebih dari 183 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, seperti disebutkan di Pasal 1, bahwa Pajak Penghasilan itu dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Kemudian pantas jika timbul pertanyaan : siapa subjek pajak itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan tentang subjek pajak diatur di Pasal 2 UU PPh 1984. Sedangkan Pasal 3 UU PPh 1984 mengatur bukan subjek pajak. Karena agak panjang, kali ini catatan tentang subjek pajak dibagi ke dalam &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bagian yaitu : subjek pajak, subjek pajak dalam negeri, subjek pajak luar negeri, subjek BUT, dan bukan subjek pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 ayat (1), ayat (1a) dan ayat (2) berbunyi :&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(1) Yang menjadi subjek pajak adalah:&lt;br /&gt;a.1. orang pribadi;&lt;br /&gt;2. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. badan; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. bentuk usaha tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1a) Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Subjek pajak dibedakan menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penjelasan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; ataupun di luar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan warisan yang belum terbagi sebagai subjek pajak pengganti dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah merupakan subjek pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya sehingga setiap unit tertentu dari badan Pemerintah, misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan, perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjek pajak dibedakan menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. Subjek pajak orang pribadi dalam negeri menjadi Wajib Pajak apabila telah menerima atau memperoleh penghasilan yang besarnya melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak. Subjek pajak badan dalam negeri menjadi Wajib Pajak sejak saat didirikan, atau bertempat kedudukan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Subjek pajak luar negeri baik orang pribadi maupun badan sekaligus menjadi Wajib Pajak karena menerima dan/atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; atau menerima dan/atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; melalui bentuk usaha tetap di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dengan perkataan lain, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang telah memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. Sehubungan dengan pemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Wajib Pajak orang pribadi yang menerima penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) tidak wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang terutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, pemenuhan kewajiban perpajakannya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak badan dalam negeri sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dan Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan.&lt;/p&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Catatan :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;br /&gt;Prakteknya, subjek pajak yang banyak dipakai ada dua saja yaitu, orang pribadi dan badan atau WPOP dan WP Badan. Sementara warisan yang belum terbagi ditetapkan sebagai subjek pajak hanya untuk keperluan penagihan pajak. Bukankah warisan benda mati? Sementara subjek pajak adalah subjek hukum yang oleh undang-undang perpajakan diberikan kewajiban. Warisan tentu saja tidak bisa melaksanakan kewajiban perpajakan seperti halnya WPOP. Sedangkan bentuk usaha tetap atau BUT seperti diatur di Pasal 1a diperlakukan seperti WP Badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kalimat di bagian penjelasan, “Penunjukan warisan yang belum terbagi sebagai subjek pajak pengganti dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan.” Jika diumpamakan warisan itu seekor ayam, dan telur ayam itu penghasilan maka kantor pajak akan memungut pajak telur ayam. Karena pemilik ayam sudah meninggal, maka siapa yang menjadi subjek pajak? Nah supaya kantor pajak bisa memungut pajak telur ayam itu, ditetapkanlah ayam itu sebagai subjek pajak. Si ayam akan tetap sebagai subjek pajak sampai si ayam jelas “diwariskan”. Kemudian jika sudah diwariskan, maka subjek pajak akan berpindah ke pemilik ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang belum paham perbedaan kewajiban subjek pajak dalam negeri dengan subjek pajak luar negeri. Di penjelasan diatas disebutkan perbedaan subjek pajak dalam negeri vs subjek pajak luar negeri. Walaupun bukan merupakan batang tubuh [tidak mengikat] tetapi penjelasan merupakan satu kesatuan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="NO-BOK" &gt;Maksud saya, penjelasan tidak mungkin bertentangan dengan batang tubuh UU.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-6191626618201686223?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6191626618201686223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6191626618201686223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/siapa-subjek-pajak.html' title='Siapa Subjek Pajak?'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-3235096350333471545</id><published>2009-10-09T00:40:00.001+07:00</published><updated>2009-10-09T00:45:24.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUT'/><title type='text'>Permanent establishment</title><content type='html'>Permanent establishment atau dalam bahasa Indonesia Bentuk Usaha Tetap [BUT] adalah istilah penting dalam perpajakan Internasional karena berkaitan dengan&lt;br /&gt;&lt;p&gt; [a.] &lt;em&gt;taxing right &lt;/em&gt;atau hak pemajakan.&lt;br /&gt;[b.] &lt;em&gt;source rules &lt;/em&gt;yaitu sekumpulan ketentuan hukum yang menentukan apa syarat-syaratnya bagi suatu jenis penghasilanagar negara tempat diterimanya penghasilan itu menjadi negara sumber yang berhak memungut pajak atas penghasilan.&lt;br /&gt;[c.] &lt;em&gt;threshold&lt;/em&gt; atau ambang batas yaitu kriteria yang memungkinkan suatu negara sumber untuk memajaki penghasilan usaha antar negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak pemajakan dari penghasilan usaha (&lt;em&gt;business profit&lt;/em&gt;) sepenuhnya diserahkan kepada negara domisili atau negara dimana Wajib Pajak terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam negeri. Pengecualian dari ketentuan tersebut adalah jika penghasilan usaha tersebut didapat atau dilakukan melalui Bentuk Usaha Tetap [BUT].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lebih jauh, tulisan ini berkaitan dengan BUT di &lt;em&gt;tax treaty&lt;/em&gt;. Karena itu dibawah disebut &lt;em&gt;OECD model &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;UN model&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;OECD model &lt;/em&gt;dibuat oleh negara-negara maju, sedangkan &lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;dibuat oleh para ahli perpajakan PBB tetapi dasarnya tetap &lt;em&gt;OECD model&lt;/em&gt;. Boleh dibilang &lt;em&gt;UN model&lt;/em&gt; adalah modifikasi &lt;em&gt;OECD model&lt;/em&gt;. Keduanya adalah contoh yang menjadi acuan negara-negara dalam negosiasi &lt;em&gt;tax treaty&lt;/em&gt;. Karena masih “model” maka dalam &lt;em&gt;tax treaty &lt;/em&gt;yang disepakati, mungkin saja tidak sama dengan modelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kegiatan usaha dilakukan oleh BUT maka hak pemajakan sepenuhnya milik negara sumber (&lt;strong&gt;&lt;i&gt;exclusively taxing rights&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;). Karena itu, pengertian Bentuk Usaha Tetap tersebut sangat penting agar diketahui dengan jelas negara mana yang berhak mengenakan pajak. &lt;em&gt;OECD model &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;memuat pengertian Bentuk Usaha Tetap dalam Pasal 5 ayat (1), yaitu: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;For the purposes of this Convention, the term “permanent establishment” means a fixed place of business through which the business of an enterprise is wholly or partly carried on &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pak Rachmanto Surahmat [dalam buku yang berjudul &lt;em&gt;Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda – sebuah pengantar&lt;/em&gt;], &lt;em&gt;fixed place&lt;/em&gt; sebagaimana diatur di Pasal 5 ayat (1) ini memiliki pengertian bahwa suatu Bentuk Usaha Tetap mengandung tiga syarat :&lt;br /&gt;a. adanya tempat usaha berupa prasarana, seperti yang disebutkan dalam Pasal 5 ayat (2) yaitu: tempat manajemen perusahaan, cabang, kantor, pabrik, bengkel dan tambang, sumur minyak atau gas, galian atau tempat lain untuk mengambil sumber daya alam;&lt;br /&gt;b. tempat usaha harus bersifat tetap, yaitu harus berada di satu tempat yang bersifat tetap; dan&lt;br /&gt;c. kegiatan usaha perusahaan tersebut dilakukan melalui tempat tetap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, karakteristik lain dari dari Bentuk Usaha Tetap adalah bersifat produktif, artinya ia turut memberikan andil dalam memperoleh laba usaha bagi kantor pusatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, BUT dikelompokkan ke dalam empat tipe :&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[1.] Tipe aset&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;BUT tipe aset ini disebutkan di Pasal 5 ayat (1). Tipe Aset memiliki tiga ciri atau karakteristik atau pengujian [&lt;em&gt;test&lt;/em&gt;], yaitu :&lt;br /&gt;[&lt;strong&gt;1.a.] &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;place of business&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;, &lt;/strong&gt;yaitu tempat baik satu ruangan kecil atau kantor yang lebih luas. Tempat tersebut bisa milik sendiri atau hanya sewa yang penting perusahaan luar negeri memiliki hak untuk menggunakan tempat tersebut. Karena itu, pada era digital ini isu server komputer menjadi topik hangat. Salah satu tulisan di blog yang berkaitan dengan &lt;em&gt;e-commerce&lt;/em&gt; ditulis oleh Pak Rusdi Yanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[1.b.] &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;fixed&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;,&lt;/strong&gt; yaitu derajat kepermanenan baik secara geografis (dimensi ruang) maupun berkelanjutan (dimensi waktu). Ini menurut Pak Gunadi [dalam buku yang berjudul &lt;em&gt;Pajak Internasional&lt;/em&gt;]. Perlu ada hubungan antara komersial dan geografis [&lt;em&gt;commercial and geographic coherence&lt;/em&gt;] secara &lt;em&gt;nature of the business&lt;/em&gt;. Tetapi menurut Pak Rachmanto Surahmat, “tetap” berkaitan antara tempat tersebut dan titik geografis. Keberadaan suatu peralatan di satu lokasi sudah cukup untuk dianggap berada di satu tempat tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1.c.] &lt;em&gt;doing business through that fixed place&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[2.] Tipe aktivitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;BUT tipe aktivitas ada dua:&lt;br /&gt;[2.a.] proyek bangunan, konstruksi, perakitan, instalasi, atau aktivitas supervisi untuk proyek tersebut selama 12 bulan. &lt;span style="" lang="IT"&gt;Ini yang ada di &lt;em&gt;OECD model&lt;/em&gt;. Tetapi di &lt;em&gt;UN model time test &lt;/em&gt;menjadi 6 bulan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.b.] kegiatan jasa termasuk konsultasi yang dilakukan perusahaan di negara lain selama 6 bulan dalam 12 bulan. Di &lt;em&gt;OECD model &lt;/em&gt;jasa ini tidak diatur secara khusus tapi di &lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;diatur yaitu di Pasal 5 ayat (3) huruf b. Negara-negara maju berpendirian bahwa jasa teknik dikenakan di negara domisili kecuali melalui agen tidak bebas. Tetapi negara-negara berkembang yang tergabung dalam &lt;em&gt;UN tax experts group&lt;/em&gt; berpendapat bahwa hal ini merugikan mereka sehingga kegiatan pemberian jasa ditetapkan sebagai BUT jika melewati &lt;em&gt;time test&lt;/em&gt;. Berbeda dengan [2.a.] diatas, &lt;em&gt;time test&lt;/em&gt; jasa tidak perlu terus-menerus. Bisa putus-putus yang penting dalam 12 bulan ada 6 bulan. Pemberian jasa ini bisa dilakukan oleh pegawai perusahaan atau orang lain yang dipekerjakan oleh perusahaan itu untuk tujuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[3.] Tipe agen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua agen merupakan BUT. Agen dibagi dua yaitu agen bebas dan agen tidak bebas. Nah, agen yang manjadi BUT adalah agen tidak bebas. Hal ini diatur di Pasal 5 ayat (5) &lt;em&gt;OECD model&lt;/em&gt;. Bahwa orang atau badan dapat ditetapkan sebagai BUT jika melakukan aktivitas melalui agen tidak bebas. Agen tidak bebas dapat berupa orang pribadi atau badan asal :&lt;br /&gt;[3.a.] Bergantung pada perusahaan yang diwakilinya. Artinya selalu mengikuti petunjuk dan intruksi perusahaan yang diwakilinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.b.] Mempunyai kuasa / kewenangan untuk menandatangani kontrak-kontrak atas nama perusahaan tersebut. Kewenangan tersebut bersifat tetap atau berlangsung terus menerus. Salah satu faktor yang menentukan untuk mengetahui sifat tetap atau terus menerus adalah apakah kegiatan tersebut dari awal mulanya dimaksudkan untuk jangka panjang atau hanya sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.c.] Tidak mempunyai kuasa seperti diatas, tetapi ia mempunyai kebiasaan menyimpan persediaan barang-barang atau barang dagangan dan secara teratur menyerahkan barang-barang tersebut atas nama perusahaan yang diwakilinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;[4.] Tipe asuransi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan antara &lt;em&gt;OECD model &lt;/em&gt;dengan &lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;berkaitan dengan BUT asuransi. &lt;em&gt;OECD model &lt;/em&gt;menyarankan bahwa perusahaan asuransi dianggap memiliki Bentuk Usaha Tetap jika perusahaan asuransi tersebut memenuhi ketentuan ayat (1) atau ayat (5) yaitu melalui agen tidak bebas. Tetapi &lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;menyarankan untuk mengatur sendiri tentang batasan Bentuk Usaha Tetap bagi usaha asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;mengatur perusahaan asuransi khusus di Pasal 5 ayat (6). Ayat ini mengatur bahwa perusahaan asuransi, kecuali berkenaan dengan reasuransi, dapat dianggap mempunyai BUT apabila perusahaan asuransi tersebut mengumpulkan atau menerima premi atau menanggung resiko di negara sumber melalui orang / badan yang bukan agen independent sebagaimana dimaksud ayat (7). Menurut negara-negara berkembang, agen asuransi biasanya tidak memiliki kuasa untuk menutup kontrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5) huruf a &lt;em&gt;OECD model&lt;/em&gt;. Jadi, menurut &lt;em&gt;UN model &lt;/em&gt;bagi agen perusahaan asuransi syarat Bentuk Usaha Tetap adalah agen di negara sumber yang bersangkutan &lt;strong&gt;mengumpulkan atau menerima premi dan menanggung resiko yang terletak di negara sumber tersebut&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ada pengecualian di &lt;em&gt;tax treaty &lt;/em&gt;yang biasanya disebutkan di Pasal 5 ayat (4). &lt;/span&gt;Sebagai contoh, berikut ini Pasal 5 ayat (4) &lt;em&gt;tax treaty &lt;/em&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; – &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menyimpang dari ketentuan-ketentuan sebelumnya dari Pasal ini, istilah "bentuk usaha tetap" dianggap tidak mencakup:&lt;br /&gt;a). penggunaan fasilitas-fasilitas semata-mata dengan maksud untuk menyimpan atau memamerkan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). pengurusan terhadap persediaan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan semata-mata dengan maksud untuk disimpan atau dipamerkan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). pengurusan terhadap persediaan barang-barang atau barang dagangan milik perusahaan semata-mata dengan maksud untuk diolah oleh perusahaan lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) pengurusan suatu tempat usaha tetap semata-mata dengan maksud untuk melakukan pembelian barang-barang atau barang dagangan, atau untuk mengumpulkan informasi bagi keperluan perusahaan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) pengurusan suatu tempat usaha tetap semata-mata untuk tujuan periklanan atau penyediaan informasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) pengurusan suatu tempat usaha tetap semata-mata dengan maksud untuk melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat sebagai kegiatan persiapan atau kegiatan penunjang, bagi keperluan perusahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) pengurusan suatu tempat usaha tetap semata-mata dengan maksud untuk melakukan gabungan kegiatan-kegiatan seperti disebutkan pada sub-ayat a) sampai dengan sub ayat e), sepanjang kegiatan-kegiatan tempat usaha tetap yang merupakan hasil penggabungan tadi bersifat sebagai kegiatan persiapan atau kegiatan penunjang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-3235096350333471545?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/3235096350333471545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/3235096350333471545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/10/permanent-establishment.html' title='Permanent establishment'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-2819237382117836468</id><published>2009-09-02T00:12:00.000+07:00</published><updated>2009-09-02T00:17:53.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kup'/><title type='text'>Pokok-pokok Perubahan Ketiga UU KUP</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penambahan beberapa definisi meliputi:&lt;br /&gt;1. Pajak;&lt;br /&gt;2. Bukti permulaan;&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan bukti permulaan;&lt;br /&gt;4. Penyidik;&lt;br /&gt;5. Putusan gugatan;&lt;br /&gt;6. Putusan Peninjauan Kembali;&lt;br /&gt;7. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga;&lt;br /&gt;8. Tanggal dikirim; dan&lt;br /&gt;9. Tanggal diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBERIAN NPWP dan NPWP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Kewajiban perpajakan dimulai sejak WP memenuhi persyaratan subjektif dan objektif belum diatur secara tegas.&lt;br /&gt;[2] Wanita kawin yang dapat memperoleh NPWP hanya wanita kawin yang “hidup terpisah” atau “pisah penghasilan dan harta secara tertulis” dari suaminya.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Diatur secara tegas bahwa kewajiban perpajakan WP dimulai sejak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif.&lt;br /&gt;[2] Wanita kawin yang tidak pisah harta dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP sebagai sarana untuk memenuhi hak dan kewajiban perpajakan atas namanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SURAT PEMBERITAHUAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Pengambilan, pengisian, penandatanganan, dan penyampaian SPT hanya secara manual.&lt;br /&gt;[2] Batas akhir penyampaian semua SPT Tahunan PPh paling lambat 3 bulan sejak akhir Tahun Pajak.&lt;br /&gt;[3] Perpanjangan SPT dengan permohonan dan harus dengan persetujuan Dirjen Pajak.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Pengambilan, pengisian, penandatanganan, dan penyampaian SPT dapat secara manual dan elektronik.&lt;br /&gt;[2] Batas akhir penyampaian SPT Tahunan PPh badan paling lambat 4 bulan sejak akhir Tahun Pajak.&lt;br /&gt;[3] Perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT cukup dengan pemberitahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Denda keterlambatan atau tidak menyampaikan SPT:&lt;br /&gt;[1] SPT Masa Rp 50 ribu;&lt;br /&gt;[2] SPT Tahunan Rp 100 ribu.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] SPT Tahunan PPh orang pribadi Rp 100 ribu;&lt;br /&gt;[2] SPT Tahunan PPh badan Rp 1 juta;&lt;br /&gt;[3] SPT Masa PPN Rp 500 ribu;&lt;br /&gt;[4] SPT Masa Lainnya Rp 100 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 8&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBETULAN SPT&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Paling lama 2 (dua) tahun setelah Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, Tahun Pajak, sepanjang belum dilakukan pemeriksaan.&lt;br /&gt;[2] Sanksi administrasi pembetulan SPT dengan kemauan Wajib Pajak sendiri setelah Pemeriksaan tetapi belum dilakukan penyidikan 200%.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Sampai dengan daluwarsa, kecuali untuk SPT Rugi atau SPT Lebih Bayar paling lama 2 tahun sebelum daluwarsa, sepanjang belum dilakukan pemeriksaan.&lt;br /&gt;[2] Sanksi administrasi atas pembetulan SPT dengan kemauan Wajib Pajak sendiri setelah Pemeriksaan tetapi belum dilakukan penyidikan 150%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 9 dan PASAL 10&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBAYARAN PAJAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Pembayaran pajak yang dianggap sah belum diatur secara tegas. (Pasal 10)&lt;br /&gt;[2] Kekurangan pajak berdasarkan SPT Tahunan dibayar paling lambat tanggal 25 bulan ketiga setelah berakhirnya tahun pajak. (Pasal 9)&lt;br /&gt;[3] Jangka waktu pelunasan surat ketetapan pajak untuk semua Wajib Pajak paling lama 1 bulan. (Pasal 9)&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Penegasan bahwa pembayaran pajak di tempat yang ditentukan Menteri Keuangan adalah sah apabila telah disahkan oleh pejabat pada tempat pembayaran tersebut. (Pasal 10)&lt;br /&gt;[2] Kekurangan pembayaran pajak berdasarkan SPT Tahunan paling lambat sebelum SPT disampaikan. (Pasal 9)&lt;br /&gt;[3] Jangka waktu pelunasan surat ketetapan pajak untuk Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu paling lama 2 bulan. (Pasal 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 13A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SANKSI ADMINISTRASI BERUPA KENAIKAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Sanksi administrasi untuk kealpaan yang pertama dilakukan Wajib Pajak, tidak diatur.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Kealpaan tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap dan dapat merugikan negara yang dilakukan pertama kali tidak dikenai sanksi pidana tetapi dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% dari pajak yang kurang dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 14&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DASAR PENERBITAN SPT&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Pelaporan faktur pajak yang tidak sesuai dengan masa penerbitan tidak diatur.&lt;br /&gt;[2] Pengusaha yang gagal berproduksi dan telah mengkreditkan Faktur Pajak Masukan tidak diatur khusus.&lt;br /&gt;[3] Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP tetapi membuat Faktur Pajak dikenai sanksi administrasi dengan STP.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Pengusaha Kena Pajak melaporkan Faktur Pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan Faktur Pajak dikenai sanksi.&lt;br /&gt;[2] Pengusaha Kena Pajak yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak Masukan diwajibkan membayar kembali.&lt;br /&gt;[3] Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai PKP tetapi membuat Faktur Pajak, tidak dikenai sanksi administrasi tetapi dikenai sanksi pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 16&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBETULAN KETETAPAN PAJAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Batas akhir penyelesaian pembetulan 12 bulan.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Batas akhir penyelesaian pembetulan 6 bulan.&lt;br /&gt;[2] Apabila diminta oleh Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis mengenai hal-hal yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkan sebagian permohonan Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 17B&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENYELESAIAN SPT LB&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Batas akhir pemeriksaan SPT LB bagi Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan tidak diatur khusus.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Batas akhir pemeriksaan SPT LB tertunda bila WP terhadap dilakukan pemeriksaan bukti permulaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 17C &amp;amp; 17D&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERCEPATAN RESTITUSI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Hanya untuk Wajib Pajak Patuh.&lt;br /&gt;(paling lama 3 bulan untuk PPh dan 1 bulan untuk PPN)&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Untuk Wajib Pajak Patuh; dan&lt;br /&gt;[2] Untuk Wajib Pajak dengan persyaratan tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan (WP beresiko rendah, seperti pengusaha kecil dan Wajib Pajak orang pribadi yang menerima penghasilan dari satu pemberi kerja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 17E&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;RESTITUSI PPN UNTUK TURIS ASING&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Tidak diatur&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Dapat diberikan Restitusi PPN atas pembelian barang bawaan oleh wisatawan mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 13 dan PASAL 22&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DALUARSA PENETAPAN dan PENAGIHAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Untuk penetapan dan penagihan:&lt;br /&gt;10 (sepuluh) tahun sejak akhir Masa Pajak atau Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Untuk penetapan:&lt;br /&gt;5 (lima) tahun sejak akhir Masa Pajak atau Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak.&lt;br /&gt;[2] Untuk penagihan:&lt;br /&gt;5 (lima) tahun sejak penerbitan penetapan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 21&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;HAK MENDAHULUI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Hak mendahulu untuk melakukan penagihan pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya. Selama ini dibatasi 2 tahun setelah penyampaian Surat Paksa.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Hak mendahulu diubah menjadi sampai dengan daluwarsa penagihan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 23&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;GUGATAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Yang dapat digugat (objek gugatan):&lt;br /&gt;[1] Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang;&lt;br /&gt;[2] Semua Keputusan selain Pasal 25 dan Pasal 26;&lt;br /&gt;[3] Pasal 16 dan Pasal 36 yang berkaitan dengan STP.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Ditambahkan:&lt;br /&gt;[1] Keputusan Pencegahan dalam rangka penagihan pajak.&lt;br /&gt;[2] Penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang tidak sesuai dengan prosedur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 25&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEBERATAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Proses penyelesaian keberatan belum diatur.&lt;br /&gt;[2] Keberatan diajukan harus dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal surat ketetapan pajak.&lt;br /&gt;[3] Data/informasi yang dapat dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan tidak diatur secara khusus.&lt;br /&gt;[3] Keberatan tidak menunda kewajiban pembayaran dan penagihan pajak.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Wajib Pajak berhak untuk memperoleh hasil penelitian keberatan dan hadir untuk memberikan keterangan dan menerima penjelasan dalam pembahasan keberatan.&lt;br /&gt;[2] Keberatan diajukan harus dalam jangka waktu 3 bulan sejak surat ketetapan pajak dikirim.&lt;br /&gt;[3] Data/informasi yang pada saat pemeriksaan masih berada pada pihak ketiga, dapat dipertimbangkan.&lt;br /&gt;[4] Wajib Pajak membayar ketetapan pajak paling sedikit sejumlah pajak yang disetujui oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;[5] Jangka waktu pelunasan pajak tertangguh.&lt;br /&gt;[6] Jumlah pajak yang diajukan keberatan belum merupakan utang pajak.&lt;br /&gt;[7] Apabila Wajib Pajak kalah dan masih harus membayar kekurangan pajak, dikenai denda 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 27&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BANDING&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Tidak diatur secara khusus&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Jumlah pajak yang diajukan banding belum merupakan utang pajak sehingga tidak ditagih dengan surat paksa.&lt;br /&gt;[2] Apabila Wajib Pajak kalah, dikenai denda sebesar 100% dari pajak yang belum dilunasi.&lt;br /&gt;[3] Wajib Pajak berhak memperoleh keterangan secara tertulis mengenai dasar keputusan keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 27A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;IMBALAN BUNGA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Surat Keputusan Keberatan dan putusan banding yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, diberikan imbalan bunga sebesar 2% per bulan untuk paling lama 24 bulan, hanya atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT).&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan, Surat Keputusan Pengurangan dan Surat Keputusan Pembatalan atas surat ketetapan pajak dan Surat Tagihan Pajak, serta Surat Keputusan Keberatan, putusan banding, putusan Peninjauan Kembali atas surat ketetapan pajak, yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, diberikan imbalan bunga sebesar 2% per bulan untuk paling lama 24 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 28&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBUKUAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Kewajiban menyimpan data pembukuan yang dikelola secara elektronik belum diatur.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Wajib Pajak yang melakukan pembukuan secara elektronik atau program aplikasi online wajib menyimpan soft copy di Indonesia selama 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 29&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Pemeriksa Pajak dapat melakukan penyegelan barang bergerak atau tidak bergerak belum diatur secara tegas.&lt;br /&gt;[2] Prosedur pemeriksaan belum diatur secara tegas di dalam batang tubuh Undang-Undang.&lt;br /&gt;[3] Keharusan penyampaian pemberitahuan hasil pemeriksaan dan pembahasan akhir (closing conference) hanya diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Pemeriksa Pajak dapat melakukan penyegelan barang bergerak atau tidak bergerak diatur secara tegas.&lt;br /&gt;[2] Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak meminjamkan atau memperlihatkan dokumen yang diperlukan dalam pemeriksaan, pajaknya dapat dihitung secara jabatan.&lt;br /&gt;[3] Dokumen untuk pemeriksaan wajib dipenuhi paling lambat satu bulan.&lt;br /&gt;[4] Prosedur pemeriksaan mengenai penyampaian pemberitahuan hasil pemeriksaan dan hak WP untuk hadir dalam pembahasan akhir (closing conference), dimuat dalam batang tubuh UU.&lt;br /&gt;[5] Bila pemeriksaan tidak memenuhi prosedur ini, maka hasil pemeriksaan dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 29A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;WAJIB PAJAK TERBUKA (GO PUBLIC)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Belum diatur secara tegas&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Wajib Pajak Go-Public yang laporan keuangannya Wajar Tanpa Pengecualian, dapat dilakukan pemeriksaan cukup dengan pemeriksaan kantor apabila Wajib Pajak tersebut termasuk dalam kriteria yang harus diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 35A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;AKSES DATA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Terbatas pada adanya kegiatan pemeriksaan pajak.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Setiap instansi pemerintah, lembaga, asosiasi, dan pihak lainnya wajib memberikan data dan informasi yang berkaitan dengan perpajakan kepada Direktur Jenderal Pajak;&lt;br /&gt;[2] Apabila kewajiban tersebut tidak dilaksanakan dikenakan sanksi pidana penjara dan denda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 36&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENGURANGAN dan PEMBATALAN KETETAPAN PAJAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Dilakukan terhadap ketetapan pajak yang tidak benar;&lt;br /&gt;[2] Jangka waktu penyelesaian paling lama 12 bulan.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak yang tidak benar;&lt;br /&gt;[2] Mengurangkan atau membatalkan STP yang tidak benar;&lt;br /&gt;[3] Membatalkan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak yang dilaksanakan tidak sesuai dengan prosedur;&lt;br /&gt;[4] Batas akhir Jangka waktu penyelesaian paling lama 6 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 16&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBETULAN KETETAPAN PAJAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;[1] Yang dapat dibetulkan adalah skp, STP, SK Keberatan, SK Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi, SK Pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar atau SKPPKP.&lt;br /&gt;[2] Jangka waktu penyelesaian paling lama 12 bulan.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Menambahkan produk hukum yang dapat dibetulkan, yaitu SK Pembetulan, Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga.&lt;br /&gt;[2] Memecah produk hukum yang dapat dibetulkan, yaitu SK Pengurangan atau Pembatalan ketetapan pajak menjadi SK Pengurangan Sanksi Administrasi dan SK Penghapusan Sanksi Administrasi serta SK Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak menjadi SK Pengurangan Ketetapan Pajak dan SK Pembatalan Ketetapan Pajak.&lt;br /&gt;[3] Jangka waktu penyelesaian paling lama 6 bulan.&lt;br /&gt;[4] Apabila permintaan WP ditolak atau diterima sebagian, diberikan alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 36A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SANKSI BAGI PETUGAS PAJAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Sanksi bagi petugas pajak yang melakukan penyalahgunaan wewenang diatur secara umum.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Pegawai pajak yang karena kelalaiannya atau dengan sengaja menghitung atau menetapkan pajak tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan dikenai sanksi.&lt;br /&gt;[2] Pegawai pajak yang dengan sengaja bertindak di luar kewenangannya dapat diadukan ke unit internal Departemen Keuangan dan dikenai sanksi.&lt;br /&gt;[3] Pegawai pajak yang terbukti melakukan pemerasan dan pengancaman kepada Wajib Pajak untuk menguntungkan diri sendiri dipidana berdasarkan KUHP.&lt;br /&gt;[4] Pegawai pajak yang memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk membayar atau menerima pembayaran, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri, dipidana berdasarkan UU Tipikor.&lt;br /&gt;[5] Pegawai pajak tidak dapat dituntut, baik secara perdata maupun pidana, apabila dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 36B&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KODE ETIK PEGAWAI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Pegawai DJP wajib mematuhi Kode Etik.&lt;br /&gt;[2] Pelaksanaan dan penampungan pengaduan pelanggaran Kode Etik dilaksanakan oleh Komite Kode Etik yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 36C&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KOMITE PENGAWAS PERPAJAKAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Tidak diatur.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Menteri Keuangan membentuk komite pengawas perpajakan, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 37A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SUNSET POLICY&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Tidak diatur.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] WP yang membetulkan SPT Tahunan sebelum tahun pajak 2007 selama masa 1 (satu) tahun setelah diberlakukannya UU, diberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi.&lt;br /&gt;[2] Wajib Pajak Orang Pribadi yang dengan sukarela mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama 1 (satu) tahun setelah diberlakukannya UU ini diberi kemudahan:&lt;br /&gt;[2.a.] diberikan penghapusan sanksi administrasi&lt;br /&gt;[2.b.] Tidak dilakukan pemeriksaan pajak kecuali terdapat data yang menyatakan bahwa SPT Wajib Pajak tidakbenar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 39A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SANKSI PIDANA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Pidana atas penerbit dan pengedar Faktur Pajak fiktif dan setoran pajak fiktif belum diatur.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Penerbit, pengguna, pengedar Faktur Pajak fiktif, dan/atau bukti pemungutan dan/atau bukti pemotongan pajak fiktif (bermasalah), diancam pidana penjara dan pidana denda;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 41A&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SANKSI PIDANA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Belum mengatur kewajiban memberikan data dan informasi kepada Direktorat Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Setiap orang dari asosiasi, instansi dan lembaga Pemerintah, dan pihak ketiga yang tidak melaksanakan kewajiban memberikan data dan informasi kepada Direktorat Jenderal Pajak, termasuk pihak yang menyebabkan tidak terpenuhinya data dan informasi dimaksud dikenai sanksi pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KONSTRUKSI SANKSI PIDANA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Sanksi pidana atas Tindak Pidana di bidang perpajakan hanya dikenakan sanksi maksimal.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;Beberapa sanksi pidana di bidang perpajakan dikenakan sanksi minimal dan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PASAL 44&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN PENYIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan sebelumnya :&lt;br /&gt;Belum dijelaskan secara tegas mengenai Penyidik Pegawai Negeri Sipil dan hal-hal yang dapat dilakukan penyitaan.&lt;br /&gt;Perubahan :&lt;br /&gt;[1] Yang menyidik hanya Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;[2] Penyitaan dilakukan terhadap barang bergerak maupun tidak bergerak termasuk rekening bank, piutang, dan surat berharga, milik Wajib Pajak, Penanggung Pajak, atau pihak-pihak lain yang telah ditetapkan sebagai tersangka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-2819237382117836468?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2819237382117836468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2819237382117836468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/09/pokok-pokok-perubahan-ketiga-uu-kup.html' title='Pokok-pokok Perubahan Ketiga UU KUP'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-7917760267792579162</id><published>2009-09-01T23:12:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T23:22:52.181+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kup'/><title type='text'>Istilah dalam KUP</title><content type='html'>Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang. &lt;br /&gt;20. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak,  Surat  Keputusan  Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Putusan Gugatan adalah putusan badan peradilan pajak atas gugatan terhadap hal-hal yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat diajukan gugatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Putusan Peninjauan Kembali adalah putusan Mahkamah Agung atas permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak terhadap Putusan Banding atau Putusan Gugatan dari badan peradilan pajak. &lt;br /&gt;38. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga adalah surat keputusan yang menentukan jumlah imbalan bunga yang diberikan kepada Wajib Pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal disampaikan secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan disampaikan secara langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan diterima secara langsung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-7917760267792579162?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7917760267792579162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7917760267792579162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/09/istilah-dalam-kup.html' title='Istilah dalam KUP'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-877586042354639108</id><published>2009-09-01T00:13:00.001+07:00</published><updated>2009-09-01T00:13:45.999+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teori pajak'/><title type='text'>Pajak adalah …</title><content type='html'>Pajak adalah kewajiban seorang penduduk kepada negara dimana dia tinggal. Pajak adalah pungutan yang dapat dipaksakan untuk membiayai administrasi negara dan kemakmuran rakyatnya. Pajak adalah perpindahan dana dari sektor privat ke sektor publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya dibedakan antara pajak dengan retribusi. Pajak adalah pungutan, iuran, atau pembayaran yang dilakukan oleh penduduk suatu negara tapi tidak jelas peruntukannya. Pokoknya kalau sudah bayar pajak ke negara berarti menjadi penghasilan negara. Penghasilan itu dipakai untuk apa saja, itu urusan pemerintah dengan DPR atau pemerintah daerah dengan DPRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan retribusi seperti “membeli jasa” sektor publik. Controh retribusi adalah parkir yang diselenggarakan oleh Pemda. Kita tidak akan bayar retribusi parkir jika tidak memarkirkan kendaraan. Jika kita diminta membayar biaya administrasi saat kita meminta pelayanan umum seperti bikin KTP, SIUP, dan lainnya, itu juga termasuk retribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek pembayaran pajak dengan retribusi juga bisa dibedakan. Pajak dibayar ke bank yang telah ditunjuk oleh pemerintah. Kantor pajak hanya mengurus administrasi pelaporan pembayaran pajak saja. Sedangkan retribusi dibayar kepada petugas. Retribusi parkir berarti dibayar ke petugas parkir, retribusi rumah sakit berarti dibayar ke petugas rumah sakit. Tidak ada kewajiban pelaporan atas pembayaran retribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak harus berdasarkan undang-undang. Retribusi harus berdasarkan peraturan daerah (perda). Tanpa itu, pajak tidak dapat dipaksakan, dan pekerjaan itu dapat disamakan dengan perampokan karena tidak sah. Istilah yang lebih halus dan sudah diketahui umum adalah pungli, kepanjangan dari pungutan liar. Disebut liar karena tidak dilandasasi dengan undang-undang atau peraturan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus dilandasi dengan undang-undang?&lt;br /&gt;Ini masalah filosofi perlunya parlemen. Berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sering kita junjung. Anggota DPR adalah wakil rakyat ditempat pemilihannya. Anggota DPR adalah penyambung lidah kehendak rakyat. Jika DPR telah setuju dengan adanya suatu jenis pajak, artinya rakyat dianggap telah setuju untuk dipungut pajak. Kalau rakyat sudah setuju dipungut pajak, maka pemerintah tinggal menjalankan amanat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Pajak (DJP) adalah bagian dari Depertemen Keuangan yang diberi kewenangan untuk memungut pajak dari rakyat. Walaupun pada prakteknya rakyat disuruh membayar pajak ke bank atau kantor pos langsung, tetapi administrasi dan pengawasan pembayaran itu dilakukan oleh DJP. Rakyat yang sudah dapat dipungut pajaknya berdasarkan undang-undang perpajakan kita disebut wajib pajak. Jadi, istilah wajib pajak berarti rakyat yang “sudah seharusnya” membayar pajak kepada negara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-877586042354639108?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/877586042354639108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/877586042354639108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/pajak-adalah.html' title='Pajak adalah …'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-1848115229124318587</id><published>2009-09-01T00:10:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T00:12:08.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teori pajak'/><title type='text'>Yurisdiksi Pengenaan Pajak</title><content type='html'>Dasar hukum pengenaan pajak di Indonesia adalah Pasal 23 ayat (2) Undang-undang Dasar Tahun 1945, yang berbunyi, “Segala pajak untuk kegunaan kas negara berdasarkan undang-undang.” Setelah amandemen UUD 1945, ketentuan tentang pajak ada di Pasal 23A, yang berbunyi "Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang." Ketentuan ini sesuai dengan suatu dalil yang berkembang di Inggris yaitu No Taxation without representation. Semua jenis pungutan yang membebani rakyat harus didasarkan pada undang-undang. Khusus untuk Pajak Penghasilan, yang berlaku saat ini, Indonesia memiliki Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 (selanjutnya disebut UU PPh 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Pasal 2 UU PPh 1984, Indonesia membangun yurisdiksi pemajakan berdasarkan dua kaitan fiskal (fiscal allegiance) yaitu: subjektif dan objektif. Pasal 2 ayat (3) huruf a UU PPh 1984 yang mengatur subjek pajak dalam negeri, berbunyi, “Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam satu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.” Menurut ketentuan ini, orang pribadi dapat disebut Wajib Pajak dalam negeri jika memenuhi salah satu syarat berikut: tempat tinggal atau domisili, keberadaan, atau niat bertempat tinggal di Indonesia. Ketiga syarat ini merupakan cara pengujian, dimanakah seseorang berdomisili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk subjek pajak badan, ketentuan tentang domisili diatur dalam Pasal 2 ayat (3) huruf b UU PPh 1984. Suatu badan dapat disebut Wajib Pajak dalam negeri jika memenuhi syarat sebagai berikut: badan tersebut didirikan di Indonesia, atau bertempat kedudukan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepastian domisili ini sangat penting karena berkaitan dengan hak pemajakan berdasarkan asas domisili. Asas domisili yaitu asas mengenai pengenaan pajak yang menentukan bahwa negara tempat Wajib Pajak bertempat tinggal atau berkedudukan lebih berhak mengenakan pajak atas hasil-hasil yang diperoleh Wajib Pajak dalam negeri yang berasal dari sumber di mana saja sumber itu ada, baik sumber itu berada di dalam negeri maupun di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain asas domilisi, terdapat satu asas lagi yang berlaku dalam UU PPh 1984 dan diterima secara global, yaitu asal sumber. Yurisdiksi sumber Indonesia mendasarkan kepada dua unsur, yaitu: menjalankan suatu aktivitas ekonomi secara signifikan, dan menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber dari negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut asas sumber, negara tempat sumber itu terletak, lebih berhak mengenakan pajak atas hasil yang keluar dari sumber itu, tak pandang dimana orang yang memiliki sumber itu berada (di luar negeri yang mengenakan pajak). Siapapun, orang pribadi atau badan, yang menerima atau memperoleh penghasilan, baik penghasilan dari usaha (active income) atau penghasilan dari modal (passive income), dari Indonesia dapat dikenakan Pajak Penghasilan. Dasar hukum asas ini adalah Pasal 2 ayat (4) UU PPh 1984.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-1848115229124318587?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/1848115229124318587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/1848115229124318587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/yurisdiksi-pengenaan-pajak.html' title='Yurisdiksi Pengenaan Pajak'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-2569107072024580282</id><published>2009-09-01T00:06:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T00:09:01.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NPWP'/><title type='text'>Apa itu NPWP</title><content type='html'>Istilah NPWP nampaknya sekarang sudah semakin populer di masyarakat. Ini tak lain karena gencarnya iklan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak tentang kewajiban untuk ber NPWP. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Punya penghasilan tapi tidak punya NPWP? Apa kata dunia?"&lt;/span&gt; Saya kira hampir semua kita sudah pernah melihat iklan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NPWP sendiri adalah kependekan dari Nomor Pokok Wajib Pajak. NPWP digunakan sebagai sarana administrasi dalam pemenuhan kewajiban dan hak masyarakat Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsinya mirip-mirip dengan KTP atau SIM, Cuma beda tujuannya saja. Nah, jika seseorang atau badan sudah memiliki NPWP, maka ia akan masuk ke dalam sistem administrasi perpajakan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, secara formal, Wajib Pajak nantinya harus melakukan pelaporan-pelaporan pajak sesuai dengan jenis-jenis kewajibannya. Jenis-jenis kewajiban pajak ini bermacam-macam. Ada yang disebut PPh Pasal 25/29, PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (2) serta ada juga kewajiban PPN.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing orang atau badan berbeda-beda kewajibannya sesuai dengan kondisinya masing-masing. Untuk badan misalnya, kewajiban pajak hampir meliputi semua jenis kewajiban tersebut. Untuk orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha, kewajiban pajaknya biasanya adalah PPh Pasal 25 bulanan, dan pelaporan SPT PPh Tahunan. Kalau dia punya karaywan, kewajibannya juga meliputi PPh Pasal 21. Bagi orang pribadi yang statusnya hanya sebagai karyawan, kewajibannya hanya menyampaikan SPT Tahunan setiap tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin banyak di antara Anda yang bertanya, siapa yang harus memiliki NPWP. Berdasarkan ketentuan, setiap badan (PT, CV, Yayasan, Koperasi dsb) wajib memiliki NPWP. Sedangkan untuk orang pribadi, yang wajib memiliki NPWP adalah orang yang penghasilannya dalam satu tahun melebihi jumlah tertentu yang disebut Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya pengantar untuk mempelajari lebih mendalam tentang pajak di Indonesia. Tulisan-tulisan berikutnya akan membahas masing-masing jenis kewajiban pajak tersebut. Untuk itu silahkan pantau terus blog ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-2569107072024580282?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2569107072024580282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/2569107072024580282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/apa-itu-npwp.html' title='Apa itu NPWP'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-6674172320336123971</id><published>2009-08-31T23:58:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T00:05:36.475+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NPWP'/><title type='text'>NPWP : Jangka Waktu Pendaftaran</title><content type='html'>Kata NPWP nampaknya menjadi kata yang semakin akrab dengan telinga masyarakat. Hal ini tidak terlepas dengan semakin gencarnya Pemerintah mengkampanyekan pentingnya masyarakat untuk memiliki NPWP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak juga tulisan-tulisan kawan-kawan blogger yang mengupas masalah NPWP ini dari berbagai sudut tergantung pada kepentingan dan pemahaman serta pengalaman sang blogger. Ada tulisan yang pro ada pula yang kontra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tulisan ke depan, saya akan mencoba untuk membuat beberapa tulisan khusus tentang NPWP untuk melengkapi tulisan-tulisan saya sebelumnya. Semoga dengan tulisan-tulisan tersebut bisa membuat sedikit pencerahan tentang apa sebenarnya NPWP ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NPWP itu sendiri adalah singkatan dari Nomor Pokok Wajib Pajak. Bagi pemerintah khususnya Direktorat Jenderal Pajak, kepemilikan NPWP adalah hal yang sangat penting menyangkut tertibnya administrasi perpajakan di Indonesia sehingga memudahkan dalam pekerjaan pengawasan kewajiban perpajakan sehingga tujuan untuk menghimpun penerimaan pajak menjadi optimal. Pada gilirannya tugas Pemerintah pada umumnya untuk mensejahterakan rakyatnyapun semakin mudah untuk dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang inilah hampir semua fihak sepakat pentingnya NPWP sehingga baik Pemerintah maupun DPR sepakat memberikan beberapa insentif dan insentif dalam amanndemen Undang-undang Pajak Penghasilan terbaru agar masyarakat secara sukarela memiliki NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Informasi tentang masalah pendaftaran NPWP &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai acuannya adalah Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 (selanjutnya saya sebut UU KUP) dan peraturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengertian NPWP sendiri menurut UU KUP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum kewajiban NPWP ini dibebankan kepada Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kapan Harus Mendaftar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/2008, maka kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wajib Pajak badan wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas, apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP paling lama pada akhir bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Wajib Pajak Orang Pribadi selain dari yang disebutkan di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa kewajiban memiliki NPWP ini bagi Wajib Pajak badan dikaitkan dengan saat usaha mulai dijalankan. Begitu juga bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas, kewajiban memiliki NPWP ini dikaitkan dengan saat usaha mulai dijalankan. Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas, seperti karyawan, kepemilikan NPWP dikaitkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang pribadi selain di atas, dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP. Termasuk dalam kelompok ini menurut saya adalah orang pribadi yang penghasilannya tidak melebihi PTKP. Kata-kata "dapat" menunjukkan bahwa bagi kelompok ini kepemilikan NPWP bukanlah kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Usaha Mulai Dijalankan&lt;br /&gt;Point yang harus dicermati pada masalah ini adalah bahwa jangka waktu pendaftaran NPWP bagi Wajib Pajak Badan dikaitkan dengan "saat usaha mulai dijalankan". Frasa tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa yang namanya Wajib Pajak Badan pastilah melakukan kegiatan usaha. Bagaimana dengan badan-badan yang didirikan tidak untuk melakukan kegiatan usaha yang sifatnya tidak mencari untung seperti yayasan sosial atau badan keagamaan? Bagi badan-badan seperti ini frasa tersebut bisa memberi ruang penafsiran yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bisa saja berkelit tidak ada kewajiban NPWP buat mereka karena mereka tidak pernah melakukan kegiatan usaha. Memang sepertinya argumen seperti ini benar. Karena tidak melakukan kegiatan usaha berarti tak ada laba usaha. Tapi harus diingat bahwa, kepemilikan NPWP ini justru perlu untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa mereka memang benar tidak melakukan kegiatan usaha, dalam arti semua sumber dananya digunakan untuk tujuan sosial atau tujuan keagamaan. Di samping itu kepemilikan NPWP juga perlu untuk melakukan kewajiban pemotongan pajak terhadap fihak lain, minimal untuk pemotongan PPh Pasal 21 karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut di atas, menurut saya frasa "saat usaha mulai dijalankan" bagi Wajib Pajak Badan sebaiknya diganti menjadi "saat usaha atau kegiatan mulai dijalankan". Dengan demikian akan mempersempit ruang penafsiran yang berbeda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-6674172320336123971?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6674172320336123971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/6674172320336123971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/npwp-jangka-waktu-pendaftaran.html' title='NPWP : Jangka Waktu Pendaftaran'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-42275541309615337</id><published>2009-08-31T23:54:00.000+07:00</published><updated>2009-08-31T23:58:01.622+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NPWP'/><title type='text'>Tata Cara Pindah NPWP</title><content type='html'>Pada dasarnya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) diadministrasikan oleh Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak. Misalnya seorang Wajib Pajak yang tinggal di kecamatan Kebayoran Lama maka ia akan mendaftarkan NPWP nya di KPP Pratama Kebayoran Lama karena KPP ini wilyah kerjanya antara lain adalah kecamatan Kebayoran Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Wajib Pajak tersebut pindah tempat tinggalnya ke kecamatan Pasar Minggu, maka NPWP nya hendaknya juga pindah ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi kecamatan Pasar Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pindah NPWP, Bagaimana Caranya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tatacara pindah NPWP diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-44/PJ/2008 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-41/PJ/2009. Penegasannya terdapat dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-69/PJ/2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Badan atau Joint Operation atau Bendahara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Permohonan pindah NPWP dilakukan dengan mengisi formulir Perubahan Data dan Wajib Pajak Pindah. Permohonan diajukan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) lama. KPP lama ini adalah KPP tempat Wajib Pajak terdaftar sebelumnya. Sedangkan KPP baru adalah KPP tempat Wajib Pajak terdaftar setelah Wajib Pajak pindah tempat tinggal atau tempat kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KPP lama harus menerbitkan Surat Pindah untuk disampaikan kepada Wajib Pajak dan ditembuskan ke KPP baru, paling lama 1 hari kerja terhitung sejak permohonan diterima lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KPP baru harus menerbitkan Kartu NPWP dan SKT serta ditembuskan ke KPP lama, paling lama 1 hari kerja sejak diterimanya Surat Pindah dari KPP lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KPP lama harus menerbitkan Surat Pencabutan SKT paling lama 1 hari kerja sejak diterimanya tembusan Kartu NPWP da SKT dari KPP baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dalam hal permohonan pindah disampaikan ke KPP baru maka KPP baru harus meneruskan permohonan pindah tersebut ke KPP lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Permohonan pindah NPWP dilakukan dengan mengisi formulir Perubahan Data dan Wajib Pajak Pindah. Permohonan diajukan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KPP baru harus menerbitkan Kartu NPWP dan SKT serta ditembuskan ke KPP lama, paling lama 1 hari kerja sejak diterimanya permohonan secara lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• KPP lama harus menerbitkan Surat Pencabutan SKT paling lama 1 hari kerja sejak diterimanya tembusan Kartu NPWP da SKT dari KPP baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dalam hal permohonan pindah disampaikan ke KPP lama, maka KPP lama harus meneruskan permohonan pindah tersebut ke KPP baru&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-42275541309615337?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/42275541309615337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/42275541309615337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/tata-cara-pindah-npwp.html' title='Tata Cara Pindah NPWP'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-7670471259621072302</id><published>2009-08-31T23:52:00.000+07:00</published><updated>2009-08-31T23:54:44.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spt'/><title type='text'>Pertanyaan Seputar SPT Tahunan</title><content type='html'>1. Ada berapa jenis SPT Tahunan Pajak Penghasilan?&lt;br /&gt;Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan terdiri dari formulir SPT untuk Wajib Pajak Badan dan formulir SPT untuk Wajib Pajak Orang Pribadi. SPT Tahunan Wajib Pajak Badan memiliki kode formulir 1771. Sementara itu untuk Wajib Pajak Orang Pribadi, formulir SPT Tahunan terdiri dari tiga jenis formulir yaitu formulir 1770, formulir 1770 S dan formulir 1770 SS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimana cara saya mendapatkan formulir SPT Tahunan?&lt;br /&gt;Formulir SPT Tahunan Pajak Penghasilan dapat diperoleh di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat atau dapat diunduh di website pajak (www.pajak.go.id).  Download di blog ini juga bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Siapa yang dapat mengisi SPT Tahunan formulir 1770 SS?&lt;br /&gt;Formulir SPT Tahunan 1770 SS adalah formulir SPT untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang penghasilannya berasal dari satu pemberi kerja dengan penghasilan bruto tidak lebih dari Rp 60.000.000,00 dan tidak punya penghasilan lain kecuali penghasilan bunga bank dan/atau bunga koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penghasilan saya bersumber dari kegiatan usaha. Jenis SPT Tahunan apa yang harus saya isi?&lt;br /&gt;Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki penghasilan dari kegiatan usaha seperti membuka usaha toko, bengkel, salon dan sejenisnya atau dari pekerjaan bebas seperti membuka praktek dokter, jenis SPT Tahunan yang digunakan adalah formulir 1770.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Di mana saja tempat menyampaikan SPT Tahunan?&lt;br /&gt;SPT Tahunan dapat disampaikan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Mobil Pajak, Pojok Pajak dan di lokasi-lokasi tertentu yang terdapat Drop Box sebagai tempat penyampaian SPT Tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Apakah penyampaian SPT Tahunan harus dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Wajib Pajak terdaftar?&lt;br /&gt;Tidak. Penyampaian SPT Tahunan bisa dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) mana saja. Penyampaian SPT Tahunan juga bisa dilakukan di lokasi-lokasi tertentu di mana terdapat Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dapatkan menyampaikan SPT Tahunan melalui pos?&lt;br /&gt;Penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan dapat dilakukan melalui Pos dengan bukti pengiriman surat atau melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bagaimana caranya menyampaikan SPT Tahunan di Kantor Pelayanan Pajak/Mobil Pajak/Pojok Pajak/Drop Box?&lt;br /&gt;Dalam hal SPT Tahunan disampaikan langsung melalui KPP/Mobil Pajak/Pojok Pajak/Drop Box, satu SPT Tahunan disampaikan dalam satu amplop tertutup dengan menuliskan pada bagian luar amplop keterangan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Nama Wajib Pajak&lt;br /&gt;b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)&lt;br /&gt;c. Tahun Pajak&lt;br /&gt;d. Status SPT (Kurang Bayar/Lebih Bayar/Nihil)&lt;br /&gt;e. Nomor telepon&lt;br /&gt;Jangan lupa untuk menandatangani SPT Tahunan sebelum dimasukkan ke dalam amplop. Jika SPT Tahunan menyatakan kurang bayar, jangan lupa melampirkan asli Surat Setoran Pajak (SSP) lembar ke-3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-7670471259621072302?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7670471259621072302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/7670471259621072302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/pertanyaan-seputar-spt-tahunan.html' title='Pertanyaan Seputar SPT Tahunan'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8031862827876721246.post-4740485564945559551</id><published>2009-08-31T23:44:00.000+07:00</published><updated>2009-08-31T23:50:41.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spt'/><title type='text'>Jenis-jenis SPT Tahunan Orang Pribadi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CKris%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, jatuh tempo penyampaian SPT Tahunan sekarang dibedakan antara SPT PPh Orang Pribadi dan SPT PPh Badan. Untuk SPT PPh Orang Pribadi, jatuh temponya tetap akhir Maret. Sementara itu, jatuh tempo SPT Tahunan PPh Badan adalah akhir April. Ketentuan ini merupakan salah satu ketentuan dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Nah, bagi Anda Wajib Pajak Orang Pribadi, Anda harus siap-siap membuat dan menyampaikan SPT Tahunan pada bulan Maret. Nah, mungkin banyak di antara Anda yang masih bingung harus mengisi formulir yang mana karena untuk SPT Orang Pribadi terdapat tiga formulir yaitu formulir 1770, formulir 1770 S dan formulir 1770 SS. Nah, tulisan ini akan memberikan sedikit arahan bagi Anda yang masih bingung.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Formulir 1770&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci pada formulir ini adalah : “penghasilan dari usaha/pekerjaan bebas”. Jika Anda memiliki penghasilan jenis ini maka wajib hukumnya Anda menggunakan formulir ini. Kalaupun Anda punya penghasilan lain semisal penghasilan dari pekerjaan, atau penghasilan passive seperti dividen atau bunga, Anda harus menggunakan formulir 1770 (tanpa S).&lt;br /&gt;Contoh kegiatan usaha/pekerjaan bebas misalnya adalah usaha toko, wartel, usaha persewaan kendaraan, salon kecantikan, praktek dokter, pengacara dan sebagainya. Jadi kegiatan usaha itu bisa dalam bentuk usaha perdagangan, jasa ataupun pabrikan. Pekerjaan bebas biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dan membuka praktek menjual keahliannya tersebut kepada khalayak atas namanya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Formulir 1770 SS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci pada formulir ini adalah : ”penghasilan semata-mata dari satu pekerjaan dengan penghasilan bruto tidak lebih dari Rp60 Juta”. Nah, jika Anda berstatus sebagai karyawan atau pegawai yang bekerja pada hanya satu perusahaan/instansi/organisasi dengan penghasilan bruto setahun tidak lebih dari Rp60 Juta, dan tidak punya penghasilan lain selain bunga deposito atau tabungan, maka Anda cukup mengisi SPT 1770 SS.&lt;br /&gt;Formulis SS ini memang dirancang sangat sederhana. Hanya ada satu lembar formulir ini dengan dilampiri formulir 1721 A1 saja. Formulir ini pun formulir yang paling banyak digunakan karena sebagian besar Wajib Pajak Orang Pribadi adalah karyawan dengan penghasilan tidak lebih dari Rp60 Juta setahun.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Formulir 1770 S&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika Anda tidak masuk kriteria untuk mengisi formulir 1770 atau 1770 SS maka formulir yang harus Anda isi adalah formulir 1770 S. Misalnya Wajib Pajak yang masuk kriteria ini adalah Wajib Pajak yang penghasilannya dari satu pekerjaan tetapi penghasilan bruto setahunnya lebih dari Rp60 Juta. Seorang karyawan yang bekerja pada lebih dari satu perusahaan/pemberi kerja juga mengisi formulir SPT 1770 S.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Nah, sudah jelas kan formulir SPT mana yang harus Anda buat? Kalau belum jelas, silahkan tinggalkan komentar di bawah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CKris%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;sumber : dudi wahyudi&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8031862827876721246-4740485564945559551?l=kunci-pajak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/4740485564945559551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8031862827876721246/posts/default/4740485564945559551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kunci-pajak.blogspot.com/2009/08/jenis-jenis-spt-tahunan-orang-pribadi.html' title='Jenis-jenis SPT Tahunan Orang Pribadi'/><author><name>jkristianbroto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03936413338827248059</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
